Sabtu, 16 Mei 2026

Bintang Lima Untuk Mbah Buyut


Kamis, 14 Mei 2026
Cerpen : Bintang Lima Untuk Mbah Buyut

Jam dua ,Tono mengusap layar ponselnya dengan jempol yang masih meninggalkan bau sambel terasi sisa makan siang tadi. Makan di rumah lebih hemat daripada harus jajan di Warkop, meski risikonya dia harus kenyang dengan omelan Winda yang lebih bikin keriting dari cabai keriting. Baginya ponsel di genggamannya adalah benda keramat yang lebih sering ia belai ketimbang tangan istrinya sendiri. Winda, yang kini sedang sibuk melipat pakaian di sudut ruangan rumah kecil di sebuah gang kawasan Wonokromo,mereka harus berjuang di kota Surabaya , Tono jadi ojol, sedang Winda membuka jasa cuci-setrika. Siang yang panas itu tambah panas dengan suara Winda yang mulai mengeluarkan gerundelan soal bayar uang SPP Marlon, yang duduk di kelas delapan,bayar uang untuk kegiatan Outing Willa ,di kelas lima,bayar uang kontrakan, bayar cicilan pinjol, bising banget gerundelan itu masuk ke kuping Tono bikin otak keriting . Lalu Winda melirik Tono dan bertanya kenapa Tono hanya diam seperti patung.

" Nggak narik lagi, Mas? Itu Hape dipantengin terus,apa bisa ngeluarin duit ?," omel Winda, nadanya tajam menembus uap kopi sachet yang baru saja Tono sruput.

Tono mendengus, memasang wajah memelas yang biasa ia gunakan agar dikasihani Winda. "Ini sudah mas Stel aplikasinya,Win, Algoritmanya masih belum nyantol". Tono baru dapat dua trip sejak pagi, waktunya lebih banyak buat nongkrong di Warkop sambil menatap layar yang sunyi dari orderan. 

Kemudian Karena gerah terus-terusan dipojokkan Tono akhirnya berdiri, menyambar jaket hijau kusam yang aromanya sudah bercampur antara asap knalpot dan kopi, lalu berbohong dengan nada paling meyakinkan. "Alhamdulillah, akhirnya dapet Orderan , lumayan nih,agak jauh !".

"Kemana mas ?".
"Ke Zimbabwe!", jawab Tono ngasal.

Tono bergegas memakai helm hijaunya, menghindari tatapan mata jutek Winda yang seolah memindai isi kepalanya yang ruwet. Dari balik pintu, Winda berteriak, sebuah teriakan yang kelak akan menjadi gema yang menjadi kenangan di kepala Tono dua abad kemudian. "Hati-hati !, Jangan pulang malam-malam !, nanti beliin martabak ya buat makan malam!".

 Tono hanya mengangkat jempol tanpa menoleh, menstarter motornya dengan sekali engkol yang terasa berat,aki lagi tekor,starter tombol nggak bisa dimanfaatkan, dan Tono kemudian memacu Vario-nya menuju arah yang nanti ternyata jangka waktu tempuhnya jauh lebih panjang dari yang tertera di peta Google.

Omongan adalah doa. Tak lama meninggalkan rumah, ponsel Tono ber-tetetet. Bunyi khas aplikasi saat Ada orderan masuk. Tono menghentikan laju motor ke pinggir jalan. Mengeluarkan ponsel dari saku jaket ojol dan meneliti layarnya, lalu ngegas lagi ke titik jemput barang. Tono seperti dalam adegan kejar-kejaran motor di film Bourne legacy,saat Cross dikejar-kejar polisi Manila. Motornya meliuk-liuk di antara kendaraan yang melintas di jalan, kadang menyerempet bahaya dengan melanggar lampu merah. Yang penting sampai ke tujuan titik pengambilan paket.

Dan sampailah Tono di Apotek. Saat masuk Apotek Tono merasa melengkapi peran petugas medis di Rumah Sakit . Ada Dokter, ada perawat , ada petugas rekam medik ada petugas farmasi. Dan Dia mengambil peran sebagai kurir andalan yang bikin orang sakit nggak perlu makin pusing nungguin obat yang tak kunjung datang karena tak ada orang yang bisa dimintai tolong pergi ke apotek. Tono menatap tas plastik kuning berisi obat yang diberikan pegawai Apotek, entah obat Jantung, obat hipertensi, obat diabetes atau cuma salep panu. Bagi Tono obat itu penting bagi orang yang memesan. Kini berayun-ayun di tangan Tono. Di dalamnya ada bungkusan yang menurutnya lebih berharga dari emas. Benda harapan orang sakit agar tetap jauh dari ajal. Baginya, dokter adalah orang hebat, perawat telah bertugas sigap. Tono harus mengambil bagiannya sebagai kurir yang lincah menembus macetnya lalu lintas di saat menjelang sore. 

Tono pernah bilang pada istrinya ," Win , aku ini kalau dapat order nganterin anak sekolah atau dapat order ambil obat di apotek itu, rasanya pingin amal saja, gak dibayar gak apa-apa, pernah ambil obat di farmasi Rumah Sakit kena uang parkir, yah aku bayar saja, itung-itung amal,aku ikhlas ngurangi upah, eh,malah sama pelanggan ditambahi tip lebih".

Saat Tono memacu Vario-nya meliuk di antara truk box, Mobil mewah dan para pemotor, ia tidak merasa sedang ugal-ugalan, ia merasa sedang melakukan misi khusus darurat, andai boleh pasang lampu Strobo lebih asik lagi menembus kemacetan.

Tono terus mengikuti garis rute yang ditentukan, sesekali melambat untuk mengecek Gmap-nya apa rutenya tidak melenceng. Jangan sampai seperti dulu kesasar ke lahan kosong.

Keluar dari keramaian lalu lintas, Masuk ke kawasan pedesaan yang diselingi tanah kosong dan sawah. Lalu Tono menghentikan motor tepat di seberang sebuah gapura ,ada bando di gapura dengan letter sign dari bahan akrilik bertuliskan: DUSUN SIDODADI. Gapuranya estetik banget , kalau malam pasti lebih cantik dengan hiasan lampu di dalam Letter Sign dan lampu-lampu hias lainnya yang ditempel di Gapura. Sayang sekali pemandangan estetik dusun yang kelihatannya rapi itu dirusak pemandangan Tower Sutet dan kabel-kabel yang dipasang semlampir (asal nggantung aja).

Tono masuk gerbang dusun pelan-pelan, mengecek lagi alamat yang tertempel di tas plastik obat. Masih sekitar tiga ratus meter lagi, melewati beberapa belokan kiri dan kanan. 

Sepi sekali keadaan dusun , Tono baru sadar setelah melewati tiga belokan dan dua perempatan. Mungkin hari yang sangat panas ,membuat orang males keluar rumah. Mestinya jam segini ada orang pulang dari kerja atau menjemput anak dari sekolah. 

Kurang lima puluh meter lagi , Tono akan sampai ke tujuan sesuai garis Gmap-nya. Dan saat tiba di lokasi yang tertera, ternyata gak cocok alamatnya. Mak!, Tono langsung jengkel. Nunggu orderan lama , sekali dapat ,alamatnya gak cocok alias salah titik. Bukan kali ini saja Gmap mengarahkan ke lokasi yang tidak sesuai dengan alamat yang tercetak di aplikasi atau tertulis di nota yang tadi dilengketkan sama mbak pegawai apotek . Tono bingung tanya siapa karena dusun ini begitu sunyi. 

Tono mengecek lagi aplikasi,barangkali ada pesan dari pelanggan soal alamat rumahnya. Biasanya alamat rumah yang gak cocok dengan arahan Gmap , akan dikonfirmasi lewat chat di aplikasi. Tidak ada chat panduan.

Tono tergerak memencet tombol telpon. Aplikasi memunculkan notif : PELANGGAN TIDAK BISA DICHAT ATAU DITELPON !. Dengan latar belakang figur karikatur yang makin bikin jengkel karena kesannya malah ngece.

Bangsat!, maki Tono dalam hati.

Tono berputar-putar mencari orang untuk dimintai informasi sampai sore makin gelap , azan Maghrib sudah lewat, Tono pun sudah balik ke gapura yang dia lewati tadi tapi tak ada orang yang...

Blaarrr !!! (Suara ledakan)

Tono melihat kilatan dari arah tower Sutet, lalu kilatan kecil itu menyeruak menjadi cahaya yang semakin meluas, menyilaukan, Meraupi mata hingga membuat Tono jadi buta sesaat. Yah rasanya sesaat, cuma beberapa detik...

Lalu tiba-tiba gelap. Tono mengerjapkan mata. Pandangannya Gelap. 

"Aduh apa aku sudah jadi buta ?".

Tono menajamkan pandangan. Lalu dia menyalakan lampu motor. Sorot lampunya menerangi jalan di depan. Tapi bukan seperti jalan yang dilewatinya tadi. Ini hutan !.

Panik , Tono benar-benar bingung kenapa dia tiba-tiba ada di hutan ?. Dia turun dari motor untuk memastikan. 

"Ya Allah, bener ini hutan...".

Tono menyapukan pandangannya ke sekeliling. Pohon, pohon, pohon dan pohon.Gapura dusun tadi pucuknya sudah runtuh, tertutup ilalang dan lumut. Dia menatap langit, penuh bintang. 

" Astaghfirullah, ya Allah di mana aku ini ?". Tono hampir menangis.

Ada suara-suara binatang, jangkrik, burung Hantu, dan suara aneh seperti hewan menggeram. Lalu cit,cit,cit,cit. Suara tikus.

"Apakah kilat tadi menyebabkan aku pindah alam, ya Allah apa ini alam barzah, apa aku sudah mati ?". Air matanya bercucuran membasahi wajah. 

Dari balik semak-semak terdengar bunyi mencicit seperti suara tikus tapi agak berat. Jumlahnya kayaknya lebih dari sepuluh. Tono ketakutan. Dia menggigil mungkin dia sudah di alam kubur dan tikus-tikus tanah itu akan mengkerikiti tubuhnya. Tapi kenapa bukan malaikat yang datang lebih dulu buat nanya-nanya siapa Tuhanmu,Apa agamamu, siapa Nabimu ,siapa saudaramu. Atau dia belum dikubur dengan layak setelah kesambar petir. Kalau dia belum mati, dia harus melakukan sesuatu. Mencari pertolongan. Tapi kemana,dia dikelilingi kegelapan.

Tak ada alat survival dan tak punya senjata untuk melawan makhluk jahat dalam bentuk apapun yang mungkin menghuni hutan ini. Terdengar bunyi gerakan dari beberapa kaki yang berat. Kaki siapa ? , binatang apa ?. Tono naik lagi ke motor, siap tancap gas , tapi mau lari ke mana , kedengarannya suara gerakan kaki-kaki itu berasal dari berbagai arah. Dia terkepung. Rupa satu hewan muncul tampak samar, matanya mengeluarkan cahaya redup merah, seperti muka hewan tikus. Tono bergidik melihat besarnya ukuran tikus itu. Sebesar kambing. Apakah tikus itu mengalami mutasi genetik?.

Tono kemudian pasrah, mulutnya komat-kamit berzikir dengan kalimat apa saja yang dia ingat. Riwayat hidupnya akan tamat oleh Tikus mutan. Tono masih berharap bahwa ini cuma mimpi di siang bolong.

Suara tembakan itu terdengar keras, Tono pun spontan tiarap di tanah yang berumput dan basah. Beberapa tembakan lagi ,terasa bau belerang menyengat, disertai suara ribut hewan-hewan yang lari terluka dan ketakutan. Tono memberanikan diri melihat apa yang sedang terjadi.

Dari atas ,cahaya itu menyilaukan dari suatu kendaraan yang melayang. Tono dapat mengenali benda yang melayang dengan lampu sorot sangat terang,itu sebuah drone yang pernah dia lihat di Internet. Takjub iya tapi Tono masih gemetaran.

Badan Tono tersorot seperti seorang penyair Monolog di panggung teater. Kabut asap belerang menari lembut memutari lokasi mengikuti deru mesin drone yang halus. Tono meletakkan tangannya untuk menepis silau. 

Lalu terdengar suara dari speaker yang menggema , "Selamat malam , Bapak baik-baik saja ?, saya Sersan Vika, polisi Metro Surabaya !".

Tono berteriak , " ya saya baik-baik saja !,  sampeyan bisa bantu saya keluar dari hutan ini ?".

Mobil patroli terbang dengan logo Polri kemudian turun perlahan.

Belum sampai memijak tanah, seekor tikus sebesar kambing gemuk, meloncat ke atap mobil dari tempat persembunyiannya di dahan pohon beringin besar. Mobil pun oleng dan kaca penutup kabin pecah oleh cakar tikus yang keras seperti sangkur baja. Sersan Vika tak menduga masih ada hewan yang belum lari dan masih bersembunyi di pohon. Dia mengomeli diri sendiri,kesal dengan kecerobohan nya sendiri," Jancok!, goblok,goblok...hah!". Jantungnya berdebar kencang. 

 Detektor panas gagal memindai keberadaan hewan mutan itu. Dia pun mengaktifkan senjata listrik untuk mengusir hewan yang nggandol di mobilnya. Bunyi arus listrik kuat mengusir tikus itu , sebagian kaki kanan tikus tak sengaja masuk ke lubang baling-baling drone karena panik, membuat mesinnya macet. Si tikus kabur dengan kaki pincang. Baling-baling drone mengamputasi hampir tujuhpuluh persen kakinya. Mobil patroli terbang itu pun jatuh ke tanah sebelum kaki-kaki pijakannya di keluarkan untuk menopang drone saat berada di darat. Tono dapat melihat lebih jelas bentuk hewan tikus mutan itu. Kulit Mereka tidak berbulu, tapi bersisik seperti kadal.

Sersan Vika keluar dari mobil terbangnya, Reaksi waspada ditunjukkan Vika saat pertama kali melihat Tono memakai atribut Ojolnya dalam jarak dekat ,waspada sekaligus terpana melihat jaket hijau Tono yang sudah agak pudar dan helm hitam dengan logo yang sangat dia kenal dari buku sejarah digital.


" Apa masih ada ojol kayak bapak ?, bukannya semua Driver online sekarang pakai SkyMover ? Atau bapak baru ikut pesta kostum, berdandan ala ojol di era Gig Economy ?".

Tapi Tono Bau Masa Lalu-nya sangat kentara Menyengat. Real banget.

Tahun 2216, udara sudah sangat bersih hampir tak ada bau asap kendaraan bermotor. Aroma asap lain masih ada. Tono membawa aroma yang sudah punah: Aroma asap knalpot. Tahun 2216 era green energy.

Vika menutup hidungnya , bukan karena jijik, tapi karena sensor di paru-parunya mendeteksi "zat karbon purba" .

Vika mengabaikan Tono sejenak, pandangannya beralih ke motor matic Vario Tono. Dia menyentuh jok berkulit kain oscar yang sudah ribuan kilo diduduki . "Ini kendaraan yang menggunakan metode ledakan di mesin dengan cairan fosil itu kan? Bagaimana bapak bisa tahan dengan kendaraan ini ?".

Bagi Vika, motor Tono adalah benda mekanik yang eksotis, kuno ,tapi sangat tidak mendukung untuk hidup di lingkungan era green energy, apalagi di kawasan penuh predator hewan-hewan mutan yang hidup di sepanjang hutan ini.

Vika sebagai Polwan dengan latar belakang sarjana Ilmu Sosial dan Sejarah, sedang melihat sejarah yang hidup di depan matanya, kayak melihat film dokumenter yang imersif. Vika seperti Tono sama-sama bingung dengan "Lost Momen" ini.

Tono pusing tujuh keliling karena sinyal internet lenyap dari ponsel , tak bisa lagi mengakses aplikasi ojol, karena yang muncul di layar notifikasi: " PERANGKAT TIDAK TERHUBUNG DENGAN INTERNET ". Tono yakin kuota internetnya masih banyak dan aktif.

Dengan semburan cahaya dari lampu-lampu yang dipasang di mobil patroli terbang Polisi, Tono dapat memindai area di mana dia berdiri sekarang, mestinya ini jalan desa yang tadinya kanan dan kiri masih banyak rumah dan kendaraan ramai lalu lalang.

Tono ingat suatu momen,"tadi ada petir menyambar di tiang Sutet di sana, itu tiang Sutetnya... Petirnya menyilaukan ,aku hampir tak bisa lihat apapun, tadi aku lewat gapura desa itu tiba-tiba alam yang aku lewati berubah, apa Aku pindah ke alam lain ?, tapi gapura itu masih ada di tempatnya namun sudah berubah kayak bangunan mangkrak gak keurus ".

Sersan Vika mencoba mencerna omongan Tono , bapak ini mungkin sedang setres , omongannya meracau.
" Bapak tidak pindah alam, ini kawasan hutan konservasi Krian, dulu memang banyak perumahan di sini , Bapak saya cerita dulu ada bencana biologi di sini, laboratorium biologi gagal eksperimen, mereka ingin menggabungkan elemen hewan liar seperti tikus dan kadal untuk dipasang biochip pendeteksi kesuburan tanah dan gempa, tapi hasil eksperimen mereka justru menghasilkan monster predator dari gen kadal dan tikus, seperti yang bapak lihat tadi, dan monster itu bisa beranak-pinak lebih cepat. Kami menyebutnya Kalkus , awalnya cuma ada puluhan lalu berkembang menjadi jutaan, jutaan orang tewas dimangsa mereka, seluruh penduduk di desa ini lenyap dalam sekejap, Kalkus itu rakus banget, pemerintah  mengevakuasi warga ke Superblok metropolitan Surabaya dan menyatakan darurat militer, perang melawan Kalkus terjadi hampir di seluruh pulau jawa, pemerintah sipil dan militer membuat bangunan-bangunan yang aman dari serangan para predator ".

Tono bergidik . " Wah !, dulu ? , padahal beberapa menit yang lalu aku lewat sini ", Tono benar-benar  terguncang dan mencoba tenang. Barangkali ini mimpi di siang bolong. Tadi dia masih ingat habis makan sambel klotok bikinan istrinya Winda.

Sersan Vika juga tampak bingung melihat kondisi Pak Tono ini. Kenapa model driver ojol begini masih ada di Tahun 2216. Fenomena orang menembus masa depan sudah banyak dia tahu, lalu kembali ke masa sekarang dengan mengaku sebagai time-traveler dari masa depan. Tapi Pak Tono ini apa dari masa lalu ?.

" Bapak siapa namanya?".
" Saya Tono mbak Vika ", jawab Tono sambil melirik tanda pengenal nama Sersan Vika yang nempel di dadanya yang tipis.
" Boleh lihat kartu identitasnya pak ?".
Tono mengeluarkan dompetnya yang lusuh dan membukanya, tampak sedikit uang kertas nyelip di situ. Lalu KTP diambilnya dan diberikan kepada Vika.

Vika terbelalak melihat KTP Tono. Diapun mengeluarkan sentolop dari saku samping celana seragam taktisnya, menyoroti plat nomer kendaraan Honda Vario. 

" Ya Allah, ini plat nomernya tahun 2026...". Gumamnya lalu menanyai lagi Tono, " Bapak masih sadar dan sehat ?".
" Siap , masih mbak Vika! , saya sehat bugar dan mental saya masih waras".
" Bapak tahu ini tanggal berapa ? Hari apa ?".
" Ini hari kamis, tanggal empat belas mei , duaribu dua enam ".
Mata Vika lagi-lagi terbelalak. Tanpa kata maaf atau Kulo nuwun, Vika merebut ponsel yang dipegang Tono. Dan dilihatnya layar ponsel Samsu, masih menggunakan gelombang 4G . Tanggal di ponsel menunjukkan angka 14/05/2026, hari : Kamis, indikator jam 17:30.
Wallpaper layar ponsel Tono bikin Vika makin Merinding. 

" Pak Tono , ini foto siapa pak ?".
" Itu foto istri dan anak-anak saya , Marlon dan Willa".
" Ya Allah, Sampeyan ini Mbah Buyut saya pak Tono !".
Kini giliran Tono seperti disambar geledek untuk yang kedua kalinya. Tubuhnya gemetaran tak karuan. Apa ini lelucon acara prank televisi ?.

" Foto seperti ini disimpan sama Mbah Willa, bahkan ada foto piguranya di dinding rumah, Ya Allah...". Vika geleng-geleng takjub, otaknya blank tak bisa mencerna Fenomena ini dalam beberapa detik.

Tono bertanya dengan gugup, " Emangnya ini tahun berapa ?".

" Ini tahun 2216 Mbah".

Tono makin lemes. Apa ini mimpi di siang bolong?, tapi rasanya real banget.

"Mbah Willa pernah nulis di akun Facebook kalau bapaknya adalah ojol, suatu ketika dapat order ke Zimbabwe, Mbah Willa saat itu kelas lima ,tak tahu kalau Zimbabwe itu di Afrika, dan tak pulang-pulang sampai Mbah Buyut Winda meninggal...".

Jadi Winda sudah meninggal. Tono menangis , terduduk di tanah meratapi nasibnya. Vika mendekatinya untuk meneliti lebih seksama sambil mengembalikan ponsel Tono.
" Ya Allah,bagaimana ini terjadi, sampeyan menembus waktu sampai seratus sembilanpuluh tahun.... Banyak orang mengaku dari masa depan, tapi Mbah ini datang dari masa lalu...".

" Tadi saya dapat order ngantar obat ke desa ini, saya melewati gapura itu, cari rumah sesuai aplikasi,tapi ternyata alamatnya gak cocok dengan arahan gogel mep, Saya cari-cari sampai balik ke gapura itu lagi ,lalu ada petir dari Sutet di sana, menyemburkan cahaya sampai ke sini, mata saya silau , kayak buta, setelah beberapa detik, mata saya buka ternyata semua sekeliling di sini telah berubah, jadi rimba belantara yang dihuni Tikus-tikus buas..., apa yang terjadi ya , kok bisa saya nembus waktu selama itu ?".

Vika memeriksa tas plastik kuning yang masih nyantol di cantolan barang di bawah stang motor. Dia melihat nota yang ditempelkan dengan strapless. Di nota itu menunjukkan tanggal 14 Mei 2026. Vika geleng-geleng lagi. Fenomena apa ini. Lalu dia melihat mobil patroli terbangnya yang kemungkinan mengalami rusak mesin baling-baling. Dia tidak dapat membawa Mbah Tono terbang pergi dari tempat bahaya ini. Vika mencoba menghubungi markas melalui gadget yang ada di lengannya. Dia sudah mengirim sinyal yang memberi tahukan posisinya.

Lalu dari kaca kabin muncul gambar hologram,temannya, rekan setimnya, Sersan Juned , " Hai Vik, apa yang terjadi ?, sinyal dronemu kok ada di darat ,di hutan Krian lagi, kamu baik-baik saja ?".

" Iya , mesinku rusak kemasukan kaki Kalkus !".
" Hah!, Oke aku meluncur ke sana , kamu amankan parameter !".
" Siap !".

" Apakah bencana biologi ini terjadi saat Mbah Winda dan Mbah Willa masih hidup ?", Tanya Tono dengan nada lemas.
" Tidak Mbah, saat bencana ini terjadi Mbah Winda dan Mbah Willa sudah wafat , Mbah Winda wafat tahun 2091 pada usia 
104 dan Mbah Willa wafat tahun 2116 pada usia 101. Kalau Mbah Marlon wafat di usia 38 pada tahun 2050 , di akun Facebook , Mbah Willa menampilkan pemakaman Mbah Marlon, infonya karena ditusuk begal yang sudah jadi incaran polisi ".

"Marlon jadi polisi ?". Tono tak bisa menyembunyikan kekagetannya , karena di keluarganya tak ada yang berprofesi jadi pegawai negeri, tentara atau polisi. 

"Ya Mbah, sejak Mbah Tono pergi tanpa kabar, Mbah Marlon berusaha mencari informasi ke mana-mana, termasuk ke kantor polisi, bahkan tidur di kantor polisi, lalu ada Polisi yang mengarahkan Mbah Marlon untuk jadi Polisi saja agar bisa melacak sendiri keberadaan Mbah Tono dengan teknologi polisi, Mbah Marlon polisi hebat, bisa menuntaskan kasus-kasus besar, dan kemudian jadi komandan tim pemburu Kejahatan terorganisir , dia berhasil melacak jaringan begal yang juga jaringan Narkoba, saat melakukan penyergapan Mbah Marlon gugur dalam tugas".

"Apa dia punya anak ?".

"Tidak Mbah, Mbah Marlon wafat dalam keadaan bujang, dia sangat dihormati dedikasinya dalam tugas kepolisian, sampai gak sempat menikah".

" Terus Willa, berapa anaknya ?".
" Mbah Willa punya dua anak, bapak saya Brando dan Tante Norma ".

" Tunggu sebentar, aku kok bingung, ada Missing link di sini... Kamu lahir tahun berapa ?. Soalnya jangka waktu Usia antara Mbah Willa, bapakmu dan kamu sangat jauh...".

Vika tersenyum mafhum, " Begini Mbah, bapak saya , Brando lahir tahun 2055, Mbah Willa memang lambat punya anak, usia 40 baru memiliki anak lewat program bayi tabung, saat itu sudah sangat canggih dan murah , berkat program MBG yang dulu digagas presiden Prabowo, orang-orang Indonesia bisa lebih panjang umur, sehat dan awet muda, orang di abad 22 sudah sulit membedakan mana yang berumur 30 dengan yang berumur 60, banyak yang memilih menikah di usia di atas 40 ,karena harus berkarir dulu ,dan memilih menitipkan sp3rm4 bagi kaum laki-laki dan bagi wanita indung telurnya di bank Sp3rm & Ovum .Bapak saya dulu lahir lewat program bayi tabung di S.O.M.E, Mbah...".

"Apa Siomay... ?".

"SOME ,Es-O-em-e, Mbah. Sperm and Oocyte Molecular Engineering," jelas Vika dengan mimik serius.

"Dan Saya ini...", Vika menoleh ke arah suara mencurigakan di dekat 'fosil' Gapura dan bersiap menembak dengan senjata mesinnya , dia waspada penuh menjaga dirinya dan Mbah Buyutnya yang datang dari masa lampau, setelah dirasa masih aman, dia lanjut bicara.

"Saya ini Mbah lahir tahun 2175...".
" Hah !", Tono menghitung-hitung jarak umur Vika dan bapaknya, " Kok bisa ?, bapakmu umur 120 baru punya anak ?".

" Itu tadi Mbah saya sudah bilang ,berkat Program MBG yang makin canggih, memperpanjang umur manusia, bapak menikah umur 70 saat beliau pensiun jadi polisi dengan wanita yang berumur 30 ,pada tahun 2125, sembilan tahun setelah Mbah Willa meninggal,di umur 70 bapak masih kelihatan kayak berumur 50, bapak juga penitip Sp3rm4 di SOME, lalu pada tahun 2128 terjadilah bencana biologi itu. Bapak menunda punya anak sampai keadaan chaos dapat teratasi, Bapak dipanggil lagi bertugas ,karena banyak polisi dan tentara tewas dalam perang melawan Kalkus, dia gugur dalam tugas tahun tahun 2140, saat mengawal rombongan pengungsi dari Mojokerto, di rimba ini pasukan bapak disergap Kawanan Kalkus. Ibu baru menggunakan Sp3rm4 tabungan bapak 30 tahun setelah bapak meninggal, saat  umur 80 tahun, lalu lahirlah saya. Kawanan itu bukan saja buas tapi juga cerdas, semuanya tewas,ratusan pengungsi dan ratusan gabungan pasukan, militer sudah mengembangkan alat khusus pendeteksi panas tubuh hewan mutan itu yang lebih dingin dari manusia atau hewan lain ,tapi kerap gagal, seperti barusan tadi , alat saya gagal mendeteksi keberadaan Kalkus yang sembunyi di pohon, tak terasa perang ini sudah berlangsung delapanpuluh delapan tahun...semua ini karena keinginan manusia mencari cara aman untuk hidup di bumi , bukan kenyamanan yang didapat malah justru kerusakan ".

"Iya, Sampai kapan batas teknologi yang diberikan Allah kepada manusia ?".

"Gak tau mbah, mungkin sampai manusia bisa membuat unta bisa berbahasa Inggris !".

Tono tertawa pendek dengan perasaan getir mendengar ocehan cucu buyutnya yang menurut perasaan Tono wajahnya mirip Winda.
" Terus bagaimana dengan Tante Norma , berapa anaknya ?".

" Tante Norma anaknya satu, tapi dia tidak menikah...".
"Ikut program bayi tabung ya ?".
" Iya , ngakunya sih begitu tapi ibu tidak percaya, Ibu Curiga Tante Norma sebenarnya jadi istri simpanan pejabat ".
" Ada di mana sekarang Tante Norma dan anaknya?".
" Mereka mengungsi ke Singapura, Tante Norma sudah meninggal Mbah, usaha SPPG-nya diteruskan anaknya,tapi dikendalikan dari Singapura ".
"Jadi program MBG itu masih berlanjut sampai sekarang?".
" Iya , program itu sangat membantu saat negara chaos dilanda perang melawan Kalkus, kita sudah siap dengan dapur-dapur umum MBG dan pemasok sembako dari Koperasi Merah Putih, masalah logistik yang dikelola SPPG sangat membantu perjuangan Polisi dan TNI serta paramiliter yang dibentuk masyarakat ".
Tono mengangguk-angguk, "Akhirnya kita tahu apa yang dulu kita ragukan, menjadi elemen penting dalam suatu momentum ".

Gadget di tangan Vika bergetar dan berpendar ,ada tombol digital untuk membuka saluran informasi berupa video hologram. Muncul wajah Sersan Juned.
" Vik, kamu masih aman ?".
" Ya masih, bagaimana Ned ?".
" Kami menghindari area dekat dengan lokasi-mu, ada puluhan kawanan berkumpul di sekelilingmu, mereka mungkin tahu kamu akan dijemput regu penyelamat, dan mereka menunggu untuk menyergap , di situ juga banyak pepohonan tinggi yang dipakai untuk sembunyi,kamu di situ jadi kayak umpan,  kamu bisa pergi ke lokasi penjemputan sekarang, itu aku kirim rutenya , jaraknya sekitar tiga kilometer , eh , Vik itu benda apa ?".
"Ini ?", tanya Vika menunjukkan motor matic Vario Tono.
" Iya , kayak...".
" Ini sepeda motor matic dari abad 21, aku bertemu Mbah buyutku dari abad 21!".
" Hah !".
Vika menunjukkan Wajah Tono melalui kamera dari gadget yang ada di tangannya.
"Apa Mesin kuno itu masih bisa dipakai ?". Tanya Juned .
" Ya masih bisa !".
" Cepat pakai untuk kabur , mereka mulai mendekati posisimu !".
" Ayo Mbah kita pergi pakai motor ini !".
Tono segera bangkit, " ke mana arahnya?".
" Ke sana Mbah , ke arah timur, kita ditunggu regu penyelamat, mereka tak bisa mendekati lokasi ini, beresiko, mobil terbang mereka bisa diserang Kalkus dari pohon...".

Tono kini punya penumpang yang sangat penting, dan dia harus mengantarkannya apapun resikonya. Siap melaju ngebut ke lokasi penjemputan, seperti dulu dia dapat penumpang tentara yang harus  mengejar kereta jurusan Jakarta yang berangkat dari Stasiun Pasar Turi, waktunya mepet, dia berasa kayak punya misi khusus membantu bela negara . "Sudah siap?".

" Oke Mbah !".

Motor matic Vario pun meluncur ke jalanan yang berubah jadi jalan setapak hutan yang licin . Beberapa Kalkus sudah berlari mengejar mereka . Vika menembak secara terukur. Dari atas Drone kecil nirawak milik Polisi memberi bantuan cahaya bagi mereka saat menembus kegelapan hutan. Drone itu juga membantu memberikan info pergerakan para Kalkus. Vika tak berhenti menembak sasaran di kanan dan kirinya . Di atas mereka muncul drone lagi , membantu Vika menembaki Kawanan Kalkus yang mendekat.

" Bagus Mbah, tinggal satu kilo lagi !".
Saat membelok ke kanan , Tono tak melihat ada lobang sedalam setengah meter berdiameter lebar, mungkin bekas kena Bom di masa lalu. Mereka pun terperosok .

Vika menggulingkan diri dan terus menembak ke arah Kalkus yang berdatangan. Tono merasakan kesakitan di kaki dan tangan. Tak ada harapan lagi, pikirnya.
Saat Vika dan Tono terpojok karena motor matic terperosok ke lubang terlalu dalam . Tono mengambil inisiatif agar Vika lari ke arah regu penyelamat dan Tono akan menghadapi Hewan mutan sendirian.
" Vika pergi selamatkan dirimu, biar Mbah yang menghadang makhluk mutan itu... Kaki Mbah sudah gak kuat lari !".
"Tapi Mbah ....".
"Sudah tidak banyak waktu cepat lari, hidup Mbah sudah selesai hari, Mbah memang ditakdirkan untuk menyelamatkan kamu hari ini demi masa depan manusia dan anak keturunanku, cepat, Vika berikan senjatamu !".
"Mbah bisa menggunakan senapan ?".
" Tinggal tarik pelatuknya kan ?".
" Ya Mbah , sama ditahan kuat-kuat, soalnya hentakannya keras!".

Vika mengulurkan senapan serbu kepada Tono yang masih terduduk di lubang. Mbah Buyutnya dia peluk sambil berurai air mata," Maaf, kita harus bertemu dalam keadaan begini Mbah...".

"Titip salam buat ibumu, siapa nama ibumu?".
" Wuni , Mbah ". Kata Vika sambil mencium kening Mbah Buyutnya.
" Cepat, cepat lari !".

Vika lari tanpa menoleh lagi.
Tono memberondong Para Kalkus dengan brutal , dibantu beberapa drone bermuatan senjata dari atas.
Lalu Tono menembak Tangki bensin motor matic -nya. Suara menggelegar terdengar disertai semburat api dari motor matic yang melalap jaket Ojol dan tubuh Tono. 

Melihat api yang besar dan tubuh Tono diselimuti api membuat para Kalkus mundur teratur, puluhan hewan mutan lainnya tampak bergeletakan disinari cahaya api. 

-js





Di Balik Layar Ada Kru Yang Dibayar

Di balik layar Monster Pabrik Rambut, ada ironi yang tidak luput dari perhatian para pembuatnya. Film yang mengangkat tema ekspl...