Film yang mengangkat tema eksploitasi tenaga kerja dan sistem yang tidak memanusiakan manusia itu justru mendorong para produsernya untuk berkaca pada praktik kerja mereka sendiri di industri film.
Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy, dua produser dari Palari Films yang memproduksi film tersebut, berbicara terbuka soal standar jam kerja di balik layar Monster Pabrik Rambut.
Keduanya juga menjelaskan tantangan nyata yang dihadapi industri film Indonesia dalam memperlakukan kru dan aktornya secara lebih manusiawi.
Crew Call Jam 5 Pagi
Meiske Taurisia menggambarkan gambaran umum hari syuting Monster Pabrik Rambut.
Kru biasanya dipanggil mulai pukul 5 pagi, syuting dimulai sekitar pukul setengah tujuh, dan berakhir sekitar pukul 9 malam. Rentang waktu yang panjang, namun bukan tanpa aturan.
"Kita berusaha keras untuk bisa syuting dari misalnya crew call jam 5, terus mulai syuting mungkin setengah 7. Kemudian kelar bisa-bisa jam 9 malam," ujar Meiske.
Ia menekankan, jam kerja hanyalah satu sisi dari persoalan. Ada hal lain yang menurutnya sama pentingnya untuk dijaga, yaitu turnover time, yakni jeda waktu minimum antara hari syuting satu dengan berikutnya.
Apa Itu Turnover Time?
Meiske Taurisia menjelaskan bahwa turnover time adalah batas waktu istirahat yang harus dipenuhi setelah satu hari syuting berakhir, sebelum kru dipanggil kembali.
Standar yang dijaga dalam produksi Monster Pabrik Rambut adalah minimal 8 jam.
Artinya, jika syuting baru selesai pukul 11 malam, maka kru tidak boleh dipanggil lagi sebelum pukul 7 pagi keesokan harinya.
Konsekuensinya, jadwal syuting hari berikutnya otomatis mundur. Namun bagi Meiske, itu adalah konsekuensi yang harus diterima.
"Tapi menurut saya dua hal itulah yang harus diperhatikan: jam kerjanya sama turnover time, supaya semua kru punya minimal 8 jam sudah bisa pulang di rumah," tegasnya.
Pernah Syuting 26 Jam Sampai Tidak Berfungsi
Muhammad Zaidy mengakui bahwa persoalan jam kerja di industri film Indonesia bukan hal baru. Ia sendiri pernah merasakannya langsung saat masih bekerja sebagai kru.
"Saya pernah syuting 26 jam dan saya sudah teler, kayak sudah nggak functioning otaknya. Disuruh apa sudah ngerjain yang lain," kenangnya.
Pengalaman itu, menurutnya, justru menjadi salah satu alasan mengapa proses pembuatan Monster Pabrik Rambut sekaligus menjadi momen refleksi bagi seluruh tim.
Film yang bercerita tentang eksploitasi pekerja itu mendorong para pembuatnya untuk lebih serius mengevaluasi standar kerja mereka sendiri.
"Dengan membuat film ini, kami juga jadi berkaca bagaimana kita menjalani ini semua dan bagaimana ke depannya. Ini the good thing of making this film, sekaligus kita juga berefleksi," ujar Zaidy.
Lebih dari Sekadar Jam Kerja
Muhammad Zaidy, yang juga terlibat aktif di Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI), menegaskan bahwa isu ini tidak berhenti pada soal berapa jam kru harus bekerja.
Ada dimensi lain yang sama pentingnya yakni keamanan dan kenyamanan seluruh orang yang terlibat dalam produksi.
Palari Films, menurutnya, sudah membentuk tim khusus untuk menangani isu-isu seperti perundungan, kekerasan, hingga pelecehan seksual di lingkungan set.
"Bukan cuman masalah jam kerja, tapi juga ada hal-hal yang kita jaga tentang keamanan dan kenyamanan semua manusia yang ada di dalam produksi. Dari ngomongin berusaha menjauh dari bullying, kekerasan, ataupun sexual harassment. Itu yang kita coba jaga dan kita punya tim terhadap itu," kata Zaidy.
Ia pun berharap langkah-langkah ini tidak hanya menjadi standar Palari Films semata, melainkan bisa menjadi cermin bagi seluruh rumah produksi di Indonesia.
"Semoga bukan cuman PH-PH tertentu, tapi juga semua PH bisa berusaha memperbaiki sistem kerja ini," pungkasnya.
Via : Kompas
#MonsterPabrikRambut #IqbaalRamadhan #horror #drama #infofilm