Jika ditinjau dari sudut pandang syariat yang ketat, meninggalkan salat tentu tidak dibenarkan bagi seorang Muslim yang berakal. Namun, dalam tradisi dakwah Nusantara, kisah ini tidak bisa dibaca secara tekstual fiqih, tapi secara makrifat (hal-hal yang hanya dipahami Ulama berilmu tinggi).
Ada dua pendekatan untuk memahami hal ini. Pertama, banyak sejarawan dan ulama berpendapat bahwa narasi "bertapa bertahun-tahun tanpa bergerak" adalah bentuk metafora atau bahasa simbolis (sanepo) khas Jawa untuk menggambarkan kesungguhan dan keteguhan hati. Dalam realitasnya, sangat mungkin Raden Mas Said tetap menjalankan kewajiban ibadahnya, namun fokus utamanya memang dicurahkan pada proses kontemplasi di tempat tersebut.
Kedua, dalam dimensi tasawuf atau ilmu makrifat, "jaga kali" atau menjaga sungai memiliki makna filosofis yang mendalam. Sungai adalah simbol aliran kehidupan dan sumber kesucian (air). Dengan menjaga sungai, Raden Mas Said sebenarnya sedang diajarkan untuk menjaga kejernihan hati dan aliran nafsu agar tetap tenang dan tidak meluap. Tongkat Sunan Bonang yang dititipkan kepadanya pun bukan sekadar kayu, melainkan simbol amanah dan bimbingan guru. Menjaga tongkat berarti memegang teguh prinsip-prinsip kebenaran yang telah ditanamkan oleh sang mursyid.
Hikmah di balik cara dakwah Sunan Bonang yang unik ini sangatlah cerdas secara psikologis. Sebelum menjadi wali, Raden Mas Said dikenal sebagai sosok yang pemberontak dan temperamental, meskipun tujuannya mulia yakni membantu rakyat kecil. Sunan Bonang tidak langsung mencekokinya dengan dalil-dalil hukum yang kaku. Sebaliknya, ia memberikan metode "Tapa Brata" sebagai bentuk terapi mental. Ini adalah cara menjinakkan ego dan gejolak jiwa yang meledak-ledak. Dengan berdiam diri di tepi sungai, Raden Mas Said dipaksa untuk berdialog dengan dirinya sendiri, mengenali kelemahan manusia, dan merasakan kehadiran Tuhan dalam kesunyian.
Metode ini menunjukkan betapa dakwah Wali Songo sangat menghargai proses dan kearifan lokal. Sunan Bonang menggunakan pendekatan yang akrab dengan kultur masyarakat saat itu, yakni bertapa, namun dengan esensi yang sudah dibelokkan menuju ketauhidan. Ini adalah strategi transisi dari cara hidup yang mengandalkan otot dan kekerasan menuju cara hidup yang mengedepankan ketajaman batin dan kesabaran. Hasilnya, Sunan Kalijaga tumbuh menjadi pendakwah yang paling luwes dan paling memahami denyut nadi kebudayaan masyarakat Jawa.
Melalui ujian menjaga tongkat di pinggir kali, Sunan Kalijaga belajar bahwa agama bukan sekadar hafalan ayat atau ibadah yang kasat, melainkan tentang ketundukan hati dan kesetiaan pada tugas. Ujian itu adalah sebuah proses penyucian sebelum ia benar-benar memikul tanggung jawab besar menyebarkan Islam di tanah Jawa. Maka, melihat kisah ini hanya dari sisi boleh atau tidaknya meninggalkan salat adalah cara pandang yang terlalu sempit. Kisah ini sejatinya adalah tentang transformasi seorang manusia dari kegelapan menuju cahaya melalui jalan kesabaran yang luar biasa.
Catatan sejarah mengenai masa muda Raden Mas Said memang memiliki beberapa versi yang saling melengkapi, namun benang merahnya tetap berpijak pada keresahan sosial. Versi yang menyebutkan bahwa ia telah menerima pendidikan agama di lingkungan keraton sebelum menjadi "perampok budiman" adalah narasi yang paling populer dalam tradisi lisan dan naskah-naskah Jawa seperti Serat Walisongo. Dalam versi ini, Raden Mas Said digambarkan sebagai pemuda cerdas yang muak melihat ketimpangan sosial. Ia menyaksikan lumbung-lumbung kadipaten penuh dengan hasil bumi, sementara rakyat di sekitarnya menderita kelaparan akibat upeti yang mencekik.
Pemberontakan batin inilah yang membuatnya memilih jalan radikal. Ia tidak mencuri untuk memperkaya diri, melainkan membongkar gudang kadipaten dan merampas harta para bangsawan serta tuan tanah yang kikir untuk dibagikan kepada mereka yang papa. Di titik ini, ia dijuluki sebagai Lokajaya, sang penguasa wilayah yang disegani. Alasan ia tetap merampok meskipun sudah mengerti dasar-dasar agama adalah karena pada saat itu ia memahami Islam hanya sebatas ritual dan hukum, namun belum mencapai kedalaman hakikat. Ia terjebak pada pemikiran bahwa "tujuan mulia menghalalkan cara yang salah".
Namun, ada pula versi lain yang lebih menekankan pada aspek konflik internal keluarga dan politik kekuasaan. Dalam versi ini, Raden Mas Said dikisahkan keluar dari istana bukan sekadar karena masalah upeti, melainkan karena ia merasa tidak cocok dengan sistem birokrasi Tuban yang dianggapnya terlalu tunduk pada kepentingan asing atau pusat yang tidak memihak rakyat. Kehidupannya di jalanan sebagai perampok adalah bentuk protes politik sekaligus pelarian diri dari kemapanan yang dianggapnya korup. Ia memilih menjadi "orang luar" agar bisa bergerak bebas membela rakyat tanpa sekat protokoler istana.
Ada juga sudut pandang sejarah yang lebih kritis yang melihat bahwa label "perampok" mungkin saja merupakan stigmatisasi dari pihak penguasa saat itu terhadap gerakan perlawanan yang dipimpin oleh Raden Mas Said. Dalam konteks ini, apa yang disebut merampok sebenarnya adalah tindakan penyitaan kembali hak rakyat yang diambil secara paksa oleh penguasa melalui pajak yang tidak adil. Raden Said tidak bergerak sendirian, melainkan memiliki pengikut yang terorganisir, sehingga aktivitasnya lebih menyerupai gerakan gerilya sosial daripada kriminalitas murni.
Semua versi tersebut bermuara pada satu titik balik yang sama: pertemuannya dengan Sunan Bonang. Di sana, kesadaran Said dijungkirbalikkan. Sunan Bonang menegur cara dakwah dan perjuangannya dengan perumpamaan yang sangat terkenal, yakni bahwa berbuat baik dengan cara merampok ibarat mencuci pakaian yang kotor menggunakan air kencing. Niatnya bersih, namun caranya najis. Teguran inilah yang menyadarkan Raden Said bahwa perjuangan membela rakyat tidak boleh dilakukan dengan melanggar syariat, yang kemudian membawanya pada masa "tapa Brata" di pinggir kali sebagai proses pembersihan diri dan pemantapan spiritual.
Peristiwa perubahan buah aren atau kolang-kaling menjadi emas merupakan salah satu fragmen paling ikonik dalam babad tanah Jawa yang menandai titik balik kehidupan Raden Mas Said. Namun, menafsirkan kejadian ini sebagai motivasi Raden Mas Said untuk mengejar kekayaan materiil adalah sebuah kekeliruan memahami logika narasi sejarah wali. Dalam berbagai literatur, justru yang terjadi adalah sebuah "syok terapi" spiritual yang melumpuhkan ego dan kesombongan sang perampok budiman.
Kisah ini bermula saat Raden Mas Said mencoba membegal Sunan Bonang di tengah hutan. Alih-alih merasa takut, Sunan Bonang justru menunjukkan ketenangan yang luar biasa dan menolak memberikan hartanya dengan alasan bahwa cara Said menolong rakyat adalah cara yang kotor. Ketika Said bersikeras, Sunan Bonang menunjuk pohon aren dan dalam sekejap buah kolang-kaling di pohon tersebut berubah menjadi emas murni. Di sinilah letak kuncinya: Raden Mas Said bukan terpikat karena ingin memiliki emas tersebut, melainkan ia tersentak oleh kesadaran bahwa orang di hadapannya memiliki derajat yang jauh melampaui logika duniawi.
Bagi seorang perampok yang selama ini mempertaruhkan nyawa demi sekantong uang atau beras untuk rakyat, melihat emas muncul hanya dengan sebuah telunjuk adalah sebuah tamparan keras. Ia menyadari bahwa selama ini ia melakukan dosa besar hanya demi sesuatu yang bagi orang seperti Sunan Bonang dianggap tidak lebih dari sekadar buah pohon yang bisa diubah kapan saja. Ketertarikan Raden Said bukan pada emasnya, melainkan pada "sumber" dari kekuatan tersebut. Ia merasa ilmunya selama ini, baik ilmu kanuragan maupun ilmu sosialnya, tidak ada artinya dibanding kedalaman batin sang Sunan.
Dalam dunia pesantren dan tasawuf, karamah atau keajaiban seperti mengubah benda menjadi emas bukan bertujuan untuk pamer kesaktian, apalagi untuk memperkaya diri. Sunan Bonang melakukan itu sebagai metode dakwah untuk meruntuhkan kesombongan intelektual dan fisik Raden Mas Said. Sunan Bonang ingin menunjukkan bahwa jika hanya harta yang dicari, Tuhan bisa memberikannya dengan mudah, namun yang jauh lebih berharga adalah kebersihan hati dan kebenaran cara dalam mencari rida-Nya.
Setelah melihat mukjizat tersebut, Raden Mas Said justru tidak mengambil emas satu butir pun. Ia malah jatuh tersungkur dan memohon untuk menjadi santri. Ia menyadari bahwa ia telah salah jalan. Ia ingin mempelajari ilmu yang bisa membuat seseorang begitu tenang dan begitu berkuasa atas dunianya sendiri tanpa harus menjadi budak dari benda-benda. Perubahan kolang-kaling menjadi emas itu hanyalah pintu masuk atau umpan visual agar Said berhenti sejenak dari aktivitas kriminalnya dan mulai merenungi hakikat kehidupan yang lebih tinggi.
Maka, versi yang mengatakan Said belajar karena ingin kaya adalah narasi yang tidak logis jika melihat kelanjutan hidupnya. Jika ia ingin kaya, ia bisa saja mengambil emas di pohon itu lalu pergi. Namun, ia justru memilih meninggalkan identitas lamanya, meletakkan senjatanya, dan bersedia berdiam diri di pinggir sungai selama bertahun-tahun dalam kondisi prihatin dan kontemplasi. Ini membuktikan bahwa yang ia kejar adalah pencerahan spiritual dan ketenangan jiwa yang ditunjukkan oleh Sunan Bonang, bukan tumpukan harta.
Sumber: All Source