Alkisah pada tahun 1927, di bawah kendali perusahaan Belanda bernama Handelsvereniging Amsterdam (HVA), sebuah poliklinik didirikan untuk melayani para pegawai pabrik gula dan administrasi perkebunan. Lokasi berdirinya rumah sakit ini berada di kawasan yang secara administratif masuk dalam wilayah yang disebut Gatoel. Nama tersebut sebenarnya merujuk pada sebuah pemukiman atau onderneming yang dikelola oleh HVA untuk menyokong operasional industri gula di sekitar Mojokerto.
Penggunaan nama Gatoel pada masa itu adalah hal yang lumrah untuk menandai identitas geografis sebuah fasilitas milik perkebunan.
Namun, ada cerita tutur yang berkembang di masyarakat mengenai asal-usul kata tersebut. Konon, kata Gatoel berasal dari istilah bahasa Belanda yang mengalami pergeseran pelafalan oleh lidah lokal. Beberapa sumber menyebutkan kaitan dengan istilah "Gat" yang berarti lubang atau gerbang, namun versi yang paling populer di kalangan sejarawan lokal adalah bahwa Gatoel memang murni nama kampung asli yang kemudian diserap menjadi nama resmi fasilitas kesehatan tersebut.
Menariknya, pencarian jejak etimologi kata "Gatoel" seringkali membawa kita pada perpaduan antara istilah teknis transportasi Belanda dan penyederhanaan lidah lokal. Hingga saat ini, tidak ada satu kata pun dalam bahasa Belanda formal yang berbunyi "Gatoel," namun ada beberapa kemungkinan kuat yang memunculkan nama tersebut:
1. Dari Istilah Jalur Kereta (Gatoelweg)
Data sejarah menunjukkan bahwa pada peta kolonial, kawasan tersebut bersinggungan dengan jalur transportasi tebu. Terdapat istilah Gatoelweg atau Jalan Gatoel. Dalam arsip Nieuw adresboek van geheel Nederlandsch (1921), tercatat adanya perhentian kereta api atau halte yang disebut Stopplaats Gatoel (Pemberhentian Gatoel).
Besar kemungkinan "Gatoel" adalah nama asli pemukiman tersebut yang kemudian diformalkan oleh Belanda sebagai nama jalan dan halte kereta api guna memudahkan logistik hasil bumi dari *Onderneming* menuju pelabuhan atau pabrik.
2. Analogi "Gat" dan Jalur Air
Beberapa pemerhati sejarah lokal sering mengaitkan nama ini dengan kata bahasa Belanda "Gat" yang berarti lubang, celah, atau mulut air. Mengingat Mojokerto adalah wilayah yang dipenuhi kanal-kanal irigasi untuk perkebunan tebu, istilah "Gat" sering digunakan untuk merujuk pada pintu air atau celah kanal.
Lidah masyarakat lokal Jawa yang terbiasa memberikan akhiran atau pengulangan kata sering kali mengubah istilah teknis Belanda menjadi lebih luwes. Pergeseran dari "Gat" atau istilah terkait teknis irigasi/transportasi menjadi "Gatoel" adalah fenomena bahasa yang sangat umum terjadi di era kolonial (seperti istilah Spoor menjadi Sepur).
3. Nama Kampung yang Mengalami "Belandanisasi"
Ada juga kemungkinan bahwa "Gatoel" memang nama asli dusun tersebut dalam bahasa Jawa kuno atau dialek lokal yang kemudian diadopsi oleh administrasi Belanda sebagai identitas resmi perusahaan mereka. Ketika keluarga Eschauzier melalui firma Cooy & Coster van Voorhout mendirikan klinik, mereka menyematkan nama lokasi tersebut agar mudah dikenali oleh para pekerja perkebunan, sehingga lahirlah Eschauzier Klinik Gatoel.
Ternyata "Gatoel" bukanlah sebuah kata dalam kamus bahasa Belanda, melainkan identitas geografis yang tercipta dari interaksi antara manajemen perkebunan Belanda dengan lingkungan lokal Mojokerto. Nama ini bertahan selama lebih dari seabad justru karena ia unik dan tidak memiliki arti formal dalam bahasa kolonial maupun bahasa Indonesia modern, sehingga ia murni menjadi "nama diri" bagi kawasan tersebut.
Yang sangat menarik dalam studi toponimi (asal-usul nama tempat). Berdasarkan pola kolonialisme Belanda di Jawa dan karakteristik bahasa lokal, besar kemungkinan nama Gatul sudah ada jauh sebelum Onderneming Belanda (perusahaan perkebunan) menguasai kawasan tersebut secara industri.
Berikut adalah beberapa argumen kuat mengapa nama Gatul kemungkinan besar adalah nama asli pribumi, bukan pemberian Belanda:
1. Pola Penamaan Masyarakat Jawa
Masyarakat Jawa memiliki tradisi menamai sebuah wilayah berdasarkan ciri fisik alamiah yang menonjol di tempat tersebut (Flora atau Fauna). Jika suatu daerah dipenuhi pohon jati, dinamakan Jatiroto; jika banyak ikan gatulnya, dinamakan Gatul. Nama ini biasanya muncul secara organik dari interaksi penduduk lokal dengan alam selama puluhan bahkan ratusan tahun. Belanda biasanya hanya "mencatat" nama yang sudah ada di lidah rakyat untuk mempermudah pemetaan dan administrasi mereka.
2. Belanda Tidak "Membudidayakan" Ikan Gatul Secara Sengaja untuk Penamaan,
Meskipun benar bahwa Belanda sering menggunakan ikan kecil pemakan jentik untuk sanitasi (seperti ikan Gambusia yang mirip Gatul), mereka sangat jarang menamai unit bisnis atau perkebunan mereka berdasarkan nama ikan lokal.
Perhatikan pola ini: Jika Belanda yang memberi nama, mereka cenderung menggunakan nama keluarga pemilik (seperti Eschauzier), nama kota di Belanda (seperti Amsterdam), atau istilah harapan yang mulia (seperti Weltevreden). Penggunaan nama "Gatoel" dalam dokumen resmi Belanda menunjukkan bahwa mereka sedang melakukan identifikasi lokasi berdasarkan nama yang sudah dikenal luas oleh penduduk setempat agar para buruh tebu tahu ke mana mereka harus bekerja.
3. "Gatoel" adalah Ejaan Adaptasi
Penulisan G-a-t-o-e-l (dengan 'oe') adalah bukti bahwa Belanda berusaha menuliskan bunyi "u" dari lidah lokal ke dalam standar ejaan mereka. Jika nama itu berasal dari bahasa Belanda, mereka tidak perlu menuliskan "oe" untuk bunyi yang mereka ciptakan sendiri. Ini memperkuat dugaan bahwa "Gatul" adalah kata asli yang kemudian "Dibelanda-kan" secara tulisan.
4. Gatul sebagai Penanda Geografis Kuno
Kawasan Puri dan sekitarnya (tempat Dusun Gatul berada) adalah wilayah penyangga ibu kota Majapahit tempo dulu yang kaya akan sumber air. Sangat mungkin nama Gatul sudah digunakan sejak zaman kerajaan atau masa-masa awal pemukiman untuk merujuk pada daerah rawa atau kanal yang kaya akan ikan kecil tersebut. Ketika Onderneming masuk pada akhir abad ke-19, mereka hanya menempati lahan yang secara tradisional sudah dikenal sebagai "wilayah Gatul".
Skenario yang Paling Mungkin:
Dahulu kala, ada sebuah kawasan basah/rawa yang dipenuhi ikan Gatul. Orang-orang menyebutnya "Kampung Gatul". Ketika perusahaan Belanda datang membangun pabrik gula dan rumah sakit, mereka bertanya pada warga,"Ini daerah apa?", dan warga menjawab, "Gatul, Meneer."
Pihak Belanda kemudian mencatatnya dalam peta mereka sebagai Onderneming Gatoel dan mendirikan Eschauzier Klinik Gatoel. Seiring berjalannya waktu, institusi besar ini membuat nama Gatul menjadi sangat terkenal secara luas, sementara asal-usulnya sebagai nama kampung atau ikan kecil perlahan-lahan terlupakan oleh generasi baru.
Jadi, ikan Gatul-lah yang memberikan nama pada rumah sakit itu melalui perantara lidah penduduk lokal, bukan perusahaan Belanda yang "membaptis" kawasan tersebut dengan nama ikan.
Bagaimana versi cerita lain dari orang-orang tua di sekitar wilayah mengenai arti kata Gatoel ini?
Seiring berjalannya waktu, fungsi RS Gatoel terus bertransformasi. Setelah masa kemerdekaan, aset-aset milik Belanda dinasionalisasi. RS Gatoel pun beralih tangan menjadi milik negara dan dikelola di bawah naungan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X. Meski kepemilikan dan manajemen berubah, identitas nama Gatoel tetap dipertahankan. Nama ini dianggap sudah terlampau melekat dan memiliki nilai historis yang kuat bagi masyarakat Mojokerto.
Kini, meski RS Gatoel telah bersolek dengan peralatan medis canggih dan bangunan yang lebih modern, nuansa masa lalunya masih terasa pada beberapa sudut arsitektur lawas yang tersisa.
Nama Gatoel bukan lagi sekadar penanda wilayah perkebunan, melainkan saksi bisu bagaimana sebuah fasilitas kesehatan tumbuh dari kebutuhan industri kolonial menjadi pelayan publik yang bertahan melintasi berbagai generasi.
Sebuah warisan nama yang tetap "membumi" di tengah pesatnya perkembangan layanan kesehatan di jantung kota Mojokerto.Cooy & Coster van Voorhout adalah sebuah firma perdagangan dan administrasi (administratiekantoor) yang berbasis di Surabaya. Firma inilah yang sebenarnya secara langsung membidani lahirnya RS Gatoel pada tahun 1927.
Pada masa itu, RS Gatoel pertama kali berdiri dengan nama Eschauzier Klinik Gatoel. Nama "Eschauzier" diambil dari keluarga konglomerat Belanda yang memiliki pengaruh besar dalam industri gula. Firma Cooy & Coster van Voorhout bertindak sebagai pengelola atau perwakilan administratif dari kepentingan bisnis keluarga Eschauzier di Jawa Timur.
Lalu, di mana letak hubungannya dengan Handelsvereniging Amsterdam (HVA)?
Koneksi ini terjadi melalui jaringan korporasi besar Belanda. HVA merupakan salah satu perusahaan perkebunan raksasa yang menguasai banyak pabrik gula di wilayah Jawa, termasuk di sekitar Mojokerto. Dalam ekosistem industri gula kolonial, sering terjadi kerja sama atau integrasi antar-perusahaan besar.
HVA kemudian menjadi entitas yang lebih dominan dalam sejarah panjang pengelolaan RS Gatoel setelah melalui berbagai proses konsolidasi bisnis dan perubahan manajemen di era kolonial. Jadi, Cooy & Coster van Voorhout adalah pihak yang mendirikan klinik tersebut sebagai anak perusahaan atau unit layanan di bawah administrasi mereka, sementara HVA adalah raksasa perkebunan yang di kemudian hari menjadi identitas yang paling melekat sebagai penguasa wilayah Gatoel dan fasilitas di dalamnya.
Setelah Indonesia merdeka, seluruh aset ini—baik yang di bawah bendera keluarga Eschauzier, Cooy & Coster van Voorhout, maupun HVA—disatukan melalui kebijakan nasionalisasi menjadi milik negara, yang kini kita kenal di bawah naungan PTPN X.
Dikutip dari laman resminya, RS Gatoel telah berdiri sejak 1927. Sebelumnya, rumah sakit ini bernama Eschauzier Klinik Gatoel, merupakan anak perusahaan dari Onderneming Belanda bernama Cooy & Coster Van Voorhout.
Perjalanan RS Gatoel selama hampir satu abad ini tentunya tak lepas dari peristiwa pertempuran merebut kemerdekaan Indonesia. Pada tahun 1946-1948, Surabaya tidak lagi memungkinkan untuk dipertahankan karena situasi perang saat itu. Sehingga Badan Keamanan Rakyat (BKR) harus mundur ke area selatan dan membentuk pertahanan, termasuk satuan kesehatan.
Staf Divisi VI di Mojokerto membentuk satuan kesehatan berupa pos lapangan, pos depan, dan pos belakang guna menolong korban perang. RS Gatoel sebagai pos belakang menjadi pusat komando untuk mengatur dan menyusun strategi bidang kesehatan.
Dicuplik dari laman RS Gatoel sudah memberikan layanan kesehatan dan mendukung hidup sehat untuk masyarakat dan pekerja. Program OHIH (Occupational Health And Industrial Hygiene) RS Gatoel sudah menjangkau banyak perusahaan dan manfaatnya sudah dinikmati oleh pekerja dan pengelola perusahaan. Dari pengelolaan Klinik Onsite hingga Medical Check Up telah didukung oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan didukung standart prosedur operasional yang telah teruji.
Mutu layanan yang dibangun pada RS Gatoel mengacu pada standart-standart Akreditasi KARS yang telah terbukti dengan pengakuan RS Gatoel mendapatkan pengakuan terakreditasi paripurna. Dengan pengakuan ini bisa menjadi harapan dan jaminan bagi pengguna layanan kesehatan yang bermutu.
Dengan proses digitalisasi di RS Gatoel telah memberikan kemudahan masyarakat mengakses layanan kesehatan dan mempersingkat proses-proses pendukung layanan medis agar waktu tunggu dan waktu antar layanan dapat dipersingkat. Sumber daya manusia di RS Gatoel selalu mengikuti pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kompetensinya.
RS Gatoel juga melakukan pemeliharaan dan penambahan peralatan kesehatan agar pelayanan yang diberikan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dan memberikan rasa aman. Komitmen RS Gatoel akan selalu memberikan layanan kesehatan yang bermutu dan sesuai harapan masyarakat.
Profil Rumah Sakit GATOEL adalah Kelas RS TYPE C. Status Kepemilikan :
P.T. NUSANTARA MEDIKA UTAMA.
Pada Januari 2013, untuk memenuhi tuntutan perkembangan masyarakat dan mengacu pada UU no 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit, didirikan PT Nusantara Medika Utama sebagai anak perusahaan PT Perkebunan Nusantara X (Persero).
Sumber (All Source) : "Asal Muasal Nama dan Sejarah RS Gatoel Mojokerto", Klik untuk baca: https://beritajatim.com/asal-muasal-nama-dan-sejarah-rs-gatoel-mojokerto.
PELAYANAN RS GATOEL :
1. IGD 24 Jam
2. Radiologi 24 Jam
3. Farmasi Rawat Jalan dan Rawat Inap 24 Jam
4. Laboratorium 24 Jam
5. Hemodialisis
6. Poli Umum dan KIA
7. Poli Spesialis
8. Poli Gigi
9. Rehabilitasi Medik
10. Kamar Operasi
11. ICU, HCU, NICU
12. Medical Check Up
13. Instalasi Gizi
14. Ambulance
15. EEG
16. USG 4D
17. CT SCAN 32 SLICE
PELAYANAN UNGGULAN :
1. Griya Battra
Meliputi layanan Akupuntur, Totok Aura, Baby SPA, Baby Swim, Pijat Laktasi, Pijat Bayi
2. Phaco Emulsifikasi
Bedah Mata Minim Sayatan (Operasi Katarak)
3. Poli Eksekutif
Pelayanan One Stop Service , mulai dari Pendaftaran, Pemeriksaan sampai dengan pembayaran dan pengambilan obat dilakukan di satu tempat
4. Hemodialisa
Merupakan suatu tindakan medis yang bertujuan untuk membantu atau menggantikan fungsi ginjal dalam membuang sisa metabolisme.
5. Bedah TKV (Toraks, Kardiak dan Vaskuler)
Pelayanan bedah untuk mendukung pelayanan Hemodialisa dalam menjalani Hemodialisa rutin melalui pemasangan av shunt dan double lumen.