Minggu, 19 Oktober 2025

Framing dan Kuasa Narasi: Ketika Citra Dibumbui Narasi Pembusukan

 Framing dan Kuasa Narasi: Ketika Citra Dibumbui Narasi Pembusukan.
Ada gambar Seorang Wanita berhijab sedang memberi makan Kucing di sisi mobil Mustang warna merah. Jika Wanita itu bukan siapa-siapa,dia pasti "aman" dari Framing. Namun jika dia wanita penting atau orang sukses yang membuat iri orang, pastilah berpotensi kena "Framing Negatif" terhadap fotonya yang sedang memberi makan kucing. Mungkin Orang yang dengki dan benci padanya akan mem-Framing "Bahwa dia sedang memberi makan Pesugihan" atau " Mobilnya mewah tapi pelit ngasih makan kucing". Mungkin akan banyak versi narasi negatif untuk mem-Framing fotonya. Padahal faktanya dia tiap hari memberi makan kucing dengan ikhlas,hanya mengharapkan pahala dari Allah. Tidak hanya itu dia juga dermawan pada tetangga, baik dengan keluarga, dan tiap bulan sowan ke Kyai untuk memberikan sembako buat kebutuhan makan dan minum Pondok.

Pada pertengahan Oktober 2025, jagat media sosial dan ruang publik Indonesia digemparkan oleh tayangan program _Xpose Uncensored_ yang disiarkan oleh Trans7. Episode tersebut menyoroti kehidupan santri di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, dengan narasi yang dinilai merendahkan kultur pengajaran pesantren dan menyerang figur pengasuhnya, KH Anwar Manshur. Tayangan itu memicu gelombang protes dari komunitas pesantren, organisasi keagamaan, hingga Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang akhirnya menjatuhkan sanksi dan menghentikan program tersebut.

Namun di balik polemik itu, terselip satu pertanyaan mendasar: bagaimana media membingkai realitas? Dan sejauh mana framing dapat membentuk persepsi publik terhadap institusi sosial seperti pesantren?

Framing: Ketika Fakta Dibingkai Narasi Pembusukan 

Dalam studi komunikasi massa, _framing_ merujuk pada cara media menyajikan informasi dengan memilih sudut pandang tertentu, menekankan aspek tertentu, dan mengabaikan yang lain. Teori ini pertama kali diperkenalkan oleh Erving Goffman dalam bukunya _Frame Analysis_ (1974), dan kemudian dikembangkan oleh Robert Entman yang menyebutkan bahwa framing melibatkan dua proses utama: _selection_ dan _salience_. Media memilih fakta tertentu dan menonjolkannya agar membentuk interpretasi tertentu di benak audiens.

Entman menyatakan bahwa framing berfungsi untuk mendefinisikan masalah, menentukan penyebab, membuat penilaian moral, dan menyarankan solusi. Dalam konteks Xpose Uncensored, tayangan tersebut membingkai kehidupan pesantren sebagai ruang yang represif dan tidak manusiawi, dengan kutipan provokatif seperti “Santrinya minum susu aja kudu jongkok, emang gini kehidupan di pondok?”. Framing semacam ini tidak hanya menyederhanakan kompleksitas kultur pesantren, tetapi juga mengabaikan nilai-nilai pendidikan, spiritualitas, dan kontribusi sosial yang telah lama dijalankan oleh institusi tersebut.

Media Sosial: Resonansi dan Amplifikasi

Jika media massa adalah ruang produksi narasi, maka media sosial adalah ruang amplifikasi. Tayangan Xpose Uncensored segera viral di platform seperti X (dulu Twitter), Instagram, dan TikTok. Potongan video yang dilepas dari konteks utuhnya menyebar cepat, memantik kemarahan publik dan seruan boikot terhadap stasiun televisi terkait. Di sinilah _framing_ bergeser dari produksi ke reproduksi: publik tidak hanya menerima bingkai naratif, tetapi juga ikut memperkuat dan memodifikasinya sesuai dengan afiliasi dan emosi masing-masing.

Dalam teori _second-level agenda setting_, media sosial berperan dalam membentuk _attribute salience_ —yakni aspek mana dari suatu isu yang dianggap penting oleh publik. Dalam kasus ini, narasi tentang “pelecehan terhadap kiai dan pesantren” menjadi pusat perhatian, sementara niat awal program untuk mengangkat sisi lain kehidupan pesantren tenggelam dalam gelombang kritik.

Figur Kyai dan Simbol Sosial

Serangan terhadap figur kyai dalam tayangan tersebut menyingkap dimensi lain dari framing: personalisasi. Dalam banyak pesantren, kyai bukan hanya guru spiritual, tetapi juga simbol moral dan pemimpin komunitas. Ketika media membingkai kyai secara negatif, dampaknya bukan hanya pada individu, tetapi pada seluruh sistem nilai yang diwakilinya. Ini menjelaskan mengapa reaksi dari organisasi seperti Nahdlatul Ulama dan PMII begitu keras dan cepat.

Tanggung Jawab Media dan Literasi Publik

Kontroversi Xpose Uncensored membuka ruang refleksi tentang tanggung jawab media dalam menyajikan informasi yang berimbang dan kontekstual. Di sisi lain, publik juga perlu meningkatkan literasi media agar tidak terjebak dalam narasi tunggal yang dibingkai secara manipulatif. Framing bukanlah kebohongan, tetapi ia bisa menjadi alat yang sangat efektif untuk membentuk opini jika tidak disikapi dengan kritis.
 Dalam dunia yang semakin dipenuhi oleh informasi, kemampuan untuk mengenali bingkai naratif menjadi keterampilan yang tak kalah penting dari kemampuan membaca. Karena di balik setiap tayangan, setiap unggahan, dan setiap kutipan, selalu ada bingkai yang membentuk cara kita melihat dunia.

--------
[1] Apa Itu Acara Xpose Trans7 & Nasibnya usai Konten Pesantren (https://tirto.id/apa-itu-acara-xpose-uncensored-trans7-nasibnya-usai-konten-pesantren-lirboyo-hjF3)
[2] Menyoal Tayangan "Xpose Uncensored" Trans7: Antara Fakta, Framing, dan... (https://www.hwmi.or.id/2025/10/menyoal-tayangan-xpose-uncensored.html)
[3] MUI - Majelis Ulama Indonesia - MUI - Majelis Ulama Indonesia (https://mui.or.id/baca/berita/kpi-resmi-hentikan-program-xpose-uncensored-trans7-imbas-sudutkan-pesantren-dan-kiai)
[4] Penayangan Program Xpose Uncensored Trans7 sebagai Teror Sosial... (https://jabar.nu.or.id/opini/penayangan-program-xpose-uncensored-trans7-sebagai-teror-sosial-terhadap-kiai-pesantren-dan-nu-H7IrM)
[5] Buntut Xpose Uncensored Trans7 Framing Negatif Kiai dan Pesantren, PMII... (https://www.nugresik.or.id/buntut-xpose-uncensored-trans7-framing-negatif-kiai-dan-pesantren-pmii-gresik-sampaikan-empat-tuntutan/)

Zodiak Pisces

Secara tradisional, rasi bintang #Pisces memang digambarkan sebagai dua ekor ikan yang berenang ke arah berlawanan namun terikat...