Sabtu, 11 Oktober 2025

DAMPAK PIDATO PRABOWO NGEGAS, AS NGEGAS ISRAEL AGAR MAU MEMBUKA LEMBARAN PERDAMAIAN

DAMPAK PIDATO PRABOWO, AS NGEGAS ISRAEL AGAR MAU DAMAI



Pidato Presiden Prabowo Subianto di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 23 September 2025 menjadi titik balik diplomasi Indonesia dalam isu Palestina-Israel. Di hadapan para pemimpin dunia, Prabowo menyampaikan dukungan terhadap solusi dua negara dan menyatakan kesiapan Indonesia mengakui Israel—dengan syarat pengakuan terhadap eksistensi Palestina lebih dahulu dilakukan oleh Tel Aviv.

Pernyataan itu mengguncang lanskap diplomasi Timur Tengah. Amerika Serikat, yang selama ini menjadi sekutu utama Israel, langsung merespons. Presiden Donald Trump, yang turut hadir dalam sidang tersebut, disebut mengadakan pertemuan tertutup dengan delegasi Israel sehari setelah pidato Prabowo. Dalam pertemuan itu, menurut sumber diplomatik di Washington, AS mendesak Israel untuk membuka kembali jalur negosiasi damai yang sempat terhenti sejak awal 2024.

“Pernyataan Presiden Indonesia memberi tekanan moral yang tidak bisa diabaikan,” kata seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri AS yang enggan disebut namanya. “Kami melihat ini sebagai peluang untuk mendorong Israel agar lebih fleksibel.”

Di Israel, reaksi beragam. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memuji pidato Prabowo sebagai “sinyal masa depan” dan menyebutnya sebagai “kata-kata penyemangat” dalam pidatonya di forum yang sama⁽¹⁾. Namun, media lokal seperti The Times of Israel dan Haaretz menyoroti bahwa pujian itu lebih bersifat taktis daripada substantif. Mereka mencatat bahwa Indonesia adalah negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia yang belum menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Maka, pernyataan Prabowo dianggap sebagai terobosan simbolik.

Di sisi lain, kelompok pro-Palestina di Indonesia dan dunia Arab mengkritik pidato tersebut. Mereka menilai pernyataan Prabowo terlalu lunak terhadap Israel dan berpotensi mengaburkan komitmen Indonesia terhadap kemerdekaan penuh Palestina⁽²⁾. Namun, Prabowo menegaskan bahwa pengakuan terhadap Israel hanya akan dilakukan jika Palestina terlebih dahulu diakui sebagai negara merdeka dan berdaulat⁽³⁾.

Langkah Prabowo juga disertai tawaran konkret: Indonesia siap mengirim 20 ribu pasukan perdamaian di bawah bendera PBB untuk menjaga stabilitas di wilayah konflik⁽⁴⁾. Tawaran ini mendapat sambutan dari Sekretaris Jenderal PBB, AntΓ³nio Guterres, yang menyebutnya sebagai “inisiatif berani dari negara yang selama ini konsisten dalam diplomasi damai.”

Pengamat hubungan internasional Robi Sugara menyebut bahwa posisi Indonesia kini kian diperhitungkan dalam peta diplomasi global. “Baliho raksasa bergambar Prabowo di Israel bukan sekadar visual, tapi simbol bahwa Indonesia mulai masuk dalam percakapan strategis,” ujarnya⁽⁵⁾.

Meski belum ada perubahan kebijakan resmi dari Israel, tekanan dari AS dan sinyal kuat dari negara-negara nonblok seperti Indonesia mulai menggeser dinamika. Di balik layar, diplomat-diplomat AS disebut mulai merancang skema baru untuk memulihkan perundingan damai yang melibatkan mediator dari Asia Tenggara.

Pidato Prabowo, yang semula diperkirakan hanya menjadi formalitas kenegaraan, ternyata menjadi katalis dalam diplomasi Timur Tengah. Di tengah kebuntuan yang telah berlangsung bertahun-tahun, suara dari Jakarta menggema hingga ke ruang-ruang negosiasi di Washington dan Yerusalem.

Sumber: 


[1] Pidato Prabowo di PBB Dipuji oleh Perdana Menteri Israel
[2] Pidato Prabowo di PBB: Pengakuan terhadap Eksistensi Israel dan ...

Di Balik Layar Ada Kru Yang Dibayar

Di balik layar Monster Pabrik Rambut, ada ironi yang tidak luput dari perhatian para pembuatnya. Film yang mengangkat tema ekspl...