Selasa, 05 Juli 2022

Tentang Niat Usaha Mencari Rejeki

 


اَللّٰہُ لَطِیۡفٌۢ بِعِبَادِہٖ یَرۡزُقُ مَنۡ یَّشَآءُ ۚ  وَہُوَ الۡقَوِیُّ الۡعَزِیۡزُ ٪



Artinya :
Allah Mahalembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezeki kepada siapa pun yang Dia kehendaki dan Dia Mahakuat, Mahaperkasa.

Allah Swt. berfirman, menceritakan tentang kelembutan-Nya terhadap makhluk-Nya; Dia memberi rezeki mereka semuanya tanpa ada seorang pun yang terlupakan, dan semua sama saja diberi rezeki olehNya apakah dia orang yang bertakwa ataukah dia orang yang durhaka.

 Seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat tinggal binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz). (Hud: 6)

dan ayat-ayat yang semisal masih banyak. 

Firman Allah Swt.:

Dia memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya. (Asy-Syura: 19)

Yakni Dia meluaskan rezeki siapa yang dikehendaki-Nya.

dan Dialah yang Mahakuat lagi Mahaperkasa. (Asy-Syura: 19)

Tiada sesuatu pun yang dapat mengalahkan-Nya.


مَنۡ کَانَ یُرِیۡدُ حَرۡثَ الۡاٰخِرَۃِ نَزِدۡ لَہٗ فِیۡ حَرۡثِہٖ ۚ  وَمَنۡ کَانَ یُرِیۡدُ حَرۡثَ الدُّنۡیَا نُؤۡتِہٖ مِنۡہَا وَمَا لَہٗ فِی الۡاٰخِرَۃِ مِنۡ نَّصِیۡبٍ  


Kemudian dalam firman berikutnya disebutkan:

Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami tambah keuntungan itu baginya. (Asy-Syura: 20)

Yakni barang siapa yang beramal untuk akhirat, Kami akan menguatkannya dan menolongnya untuk melakukan apa yang menjadi tujuan niatnya, maka Kami akan mengembangkan keuntungannya dan membalasnya dengan pahala satu kebaikan dengan sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kali lipat, hingga kelipatan yang dikehendaki oleh Allah.

Dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tak ada baginya suatu bagian pun di akhirat !. (Asy-Syura: 20)

Artinya, barang siapa yang Niat usahanya hanya semata-mata mencari keuntungan duniawi, sedangkan kepentingan akhiratnya tidak terbersit dalam hatinya, maka Allah mengharamkan baginya keuntungan di negeri akhirat. Sedangkan keuntungan dunia, jika Allah menghendakinya, maka Dia memberinya; dan jika tidak menghendakinya, maka Dia tidak memberikan kepadanya, baik keuntungan di dunia maupun keuntungan di akhirat. Dan orang yang berusaha dengan niat ini memperoleh kerugian ,dobel, di dunia dan di akhirat. Dalil yang menunjukkan bahwa ayat ini terikat dengan ayat yang ada di dalam surat Al-Isra ialah firman Allah Swt.:

"Barang siapa lebih berat menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami percepat baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahanam ! ; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barang siapa yang Lebih mengutamakan kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya mendapatkan ganjaran yang le ih baik. Kepada masing­ masing golongan, baik golongan ini maupun golongan itu, Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidak ada yang dapat menghalangi. Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya". (Al-Isra: 18-21)

Akhirat Jadikan Prioritas Utama

As-Sauri telah meriwayatkan dari Ma'mar, dari Abul Aliyah, dari Ubay ibnu Ka'b r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

"Umat ini mendapat berita gembira dengan beroleh keluhuran, ketinggian, pertolongan, dan kedudukan yang teguh di muka bumi. Maka barang siapa di antara mereka yang mengerjakan amal akhirat untuk kepentingan dunianya, maka tidak ada bagian baginya kelak di negeri akhirat."


Sebagai Pedagang Siapkan dagangan saja disertai ikhtiar seperti mengemas dagangan sebaik-baiknya ,mempromosikannya dan lain-lain. Lantas beribadahlah dengan mengharapkan ridho Allah dan Rahmat Kebaikan Pahala Akhirat. Allah Ridho ibadah kita semoga Ridho juga dengan doa-doa kita. Dan secara otomatis Allah mengatur rejeki kita, mengatur siapa yang beli dagangan kita,Allah menata jalan hidup kita,Allah tahu rumah kita,kebutuhan kita. Allah tahu tempat usaha kita,janganlah berdoa mendetil seperti berdoa minta uang 1 M,doa minta mobil Atau malah mendoakan kejelekan bagi saingan usaha kita. 

Rejeki kita oleh Allah sudah ditata sedemikian rupa,ada yang untung banyak lalu keluar duitnya juga banyak,untuk keperluan mendadak yang tak dikehendaki . Ada yang keuntungannya sedikit demi sedikit namun bisa menunaikan ibadah haji, rejekinya barokah bisa menolong anak yatim,menyokong pembangunan masjid, menjamin gaji guru Ngaji dll.

Segala macam ibadah harus tulus ditujukan kepada Allah. Misal bershodaqoh, banyak kaum Muslim berharap mendapatkan balasan atau ganti berkali-kali lipat Keuntungan rejeki dari amal yang dikeluarkan tersebut agar bisa langsung dinikmati di dunia dan tidak terbersit niat untuk "menabung" Ganjaran pahala Akhirat. Apabila Usaha Gagal atau mengalami kerugian dia mempermasalahkan amal-amalnya itu. "YA ALLAH ,AKU SUDAH BERIBADAH SHOLAT,BERAMAL JARIYAH SHODAQOH,BERZIKIR INI-ITU TAPI PINTU REJEKI TIDAK TERBUKA LEBAR-LEBAR UNTUK KU". Begitu dia mengeluh sampai dengan emosi marah tertinggi. Marah kepada siapa saja,menyalahkan siapa saja,sampai curiga ada yang menyerangnya dengan santet,serta dengki dengan kesuksesan orang lain.

Uang yang kita sedekahkan di Jalan Allah itu "milik" Allah dan menjadi deposit akhirat kita. karena Allah sudah mewanti-wanti bahwa ada hak orang lain dari harta & rejeki yang kita terima. Jika setelah kita bershodaqoh lantas ada muncul rejeki dan malah rejeki tak terduga yang lebih banyak, itu bukan sebagian balasan dari Allah atas amal jariyah kita tapi memang ada rejeki lain dari Allah sesuai janji Allah atau sistem yang ditetapkan Allah yakni : JIKA HAMBA-HAMBAKU MENURUTI PERINTAHKU MAKA AKU AKAN MENAMBAH-NAMBAH KENIKMATAN KEPADA MEREKA.

Salah satu perintah Allah yang utama adalah beribadahlah secara ikhlas demi Allah. Bukan ibadah yang mengharapkan balasan finansial atau ibadah cari muka agar diperhatikan atasan. Begitulah prosedur bagaimana Rahmat Allah bekerja untuk kehidupan hamba-hambaNya. Beribadahlah sesuai keinginan Allah,urusan rejeki kita urusan Allah. Kadang kita diuji,seperti yang difirmankan Allah di Surat Al-Baqarah.

Al-Baqarah 2:155

وَلَنَبۡلُوَنَّکُمۡ بِشَیۡءٍ مِّنَ الۡخَوۡفِ وَالۡجُوۡعِ وَنَقۡصٍ مِّنَ الۡاَمۡوَالِ وَالۡاَنۡفُسِ وَالثَّمَرٰتِ ؕ  وَبَشِّرِ الصّٰبِرِیۡنَ ۙ 


Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar,

Allah Swt. memberitahukan bahwa Dia pasti menimpakan cobaan kepada hamba-hamba-Nya, yakni melatih dan menguji mereka. Seperti yang disebutkan di dalam firman lainnya, yaitu:

Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kalian agar Kami mengetahui (supaya nyata) orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kalian, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwal kalian. (Muhammad:31)

Adakalanya Allah Swt. mengujinya dengan kesenangan dan adakalanya mengujinya dengan kesengsaraan berupa rasa takut dan rasa lapar, seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:

Karena itu, Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan. (An Nahl:112)

Di dalam surat ini Allah Swt. berfirman:
"...dengan sedikit ketakutan dan kelaparan..."

Yang dimaksud dengan sesuatu ialah sedikit. 

Sedangkan firman-Nya:

"...dan kekurangan harta..."

Yakni lenyapnya sebagian harta atau mengalami kerugian .

"...dan kekurangan jiwa..."

Yaitu dengan meninggalnya anggota keluarga, teman-teman, kaum kerabat, dan kekasih-kekasih.

"...dan kekurangan buah-buahan.."

Yakni kebun dan lahan pertanian tidak menghasilkan buahnya sebagaimana biasanya (menurun produksinya). 

Sebagian ulama Salaf mengatakan bahwa sebagian pohon kurma sering tidak berbuah, hal ini dan yang semisal dengannya merupakan suatu cobaan yang ditimpakan oleh Allah Swt. kepada hamba-hamba-Nya. Barang siapa yang sabar, maka ia mendapat pahala, dan barang siapa tidak sabar, maka azab-Nya akan menimpanya. Karena itulah, maka di penghujung ayat ini disebutkan:

"Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar"

Seorang Mufassirin meriwayatkan bahwa makna yang dimaksud dengan al-khauf ialah takut kepada Allah, al-ju'u ialah puasa bulan Ramadan, naqsul amwal ialah zakat harta benda, al-anfus ialah berbagai macam sakit, dan samarat ialah anak-anak. Akan tetapi, pendapat ini masih perlu dipertimbangkan.

Agar jalan hidup kita tetap lurus di jalan Allah maka Sholat harus terus ditegakkan ,dalam sholat ada bacaan surat Al-Fatihah yang berisi permohonan kepada Allah agar selalu menuntun hidup kita dalam Shirothol Mustaqim, yaitu jalan orang-orang yang diberi Allah segala macam Kenikmatan.





Di Balik Layar Ada Kru Yang Dibayar

Di balik layar Monster Pabrik Rambut, ada ironi yang tidak luput dari perhatian para pembuatnya. Film yang mengangkat tema ekspl...