Jumat, 12 Juni 2026

Sejarah Protes Dibalik Lahirnya Indrive


Lanskap transportasi daring di Indonesia kembali riuh ketika sebuah model bisnis alternatif menancapkan kukunya pada medio 2019. Datang tanpa keriuhan pemodal besar yang membakar uang untuk subsidi tarif, inDrive—yang kala itu masih menyandang nama inDriver—memilih memulai langkah dari daerah pinggiran sebelum akhirnya resmi merambah Jakarta dan kawasan metropolitan lainnya pada 2021. Strategi penetrasi ini terhitung unik, karena mereka tidak langsung menantang dua raksasa mapan, Gojek dan Grab, di jantung pertempuran utama, melainkan mengumpulkan basis pengguna di lebih dari lima puluh kota sekunder terlebih dahulu.

Daya tarik utama yang dibawa oleh aplikator asal Siberia yang kini bermarkas di Amerika Serikat ini terletak pada sistem penentuan harga. Berbeda dengan algoritma Gojek dan Grab yang kaku dan menentukan tarif secara sepihak, perusahaan ini menawarkan sistem lelang terbuka. Penumpang mengajukan tawaran harga, dan para pengemudi berhak menerima, menolak, atau memberikan penawaran balik. Model interaksi people-to-people ini memberikan ruang bagi kedua belah pihak untuk berkompromi secara langsung.

Bagi sebagian besar masyarakat, skema tawar-menawar ini membawa ingatan pada transaksi tradisional di pasar-pasar rakyat. Karakter konsumen lokal yang gemar mencari celah harga paling ekonomis membuat model transaksi ini cepat mendapat tempat. Pengemudi pun merasa diuntungkan oleh potongan komisi yang relatif lebih rendah, berkisar di angka sepuluh persen, jauh di bawah potongan para kompetitor utamanya.

Meskipun demikian, tingkat keterpakaian aplikasi ini belum mampu menggoyang dominasi Gojek dan Grab yang telah menguasai separuh ceruk pasar nasional. Kelemahan mendasar terletak pada kelengkapan ekosistem digital. Dua raksasa lawas telah berevolusi menjadi aplikasi super yang mengintegrasikan layanan pengiriman makanan, dompet digital, hingga pembayaran berbagai tagihan dengan fitur e-wallet.

Di sisi lain, ketergantungan pada sistem pembayaran tunai menjadi ganjalan serius bagi pertumbuhan platform penantang ini. Di tengah penetrasi masyarakat cashless yang semakin masif, keharusan menyediakan uang pas sering kali memicu kejengkelan konsumen. Kendala teknis seperti akurasi peta navigasi dan lambatnya respons layanan konsumen juga kerap dikeluhkan oleh para pengguna di lapangan. Urusan layanan pelanggan yang kurang taktis ini sering kali membuat pengguna nggondok. Persoalan operasional tidak segera mendapat penyelesaian yang tuntas.

Realitas di jalanan menunjukkan bahwa platform baru ini lebih sering diposisikan sebagai ban serep atau pilihan alternatif ketika tarif Gojek dan Grab sedang melambung tinggi akibat waktu sibuk atau cuaca buruk. Karakter pengemudinya pun sebagian besar bersifat ganda; mereka kerap menjalankan beberapa aplikasi sekaligus demi mengejar pemenuhan kebutuhan harian. Ketika orderan dari platform utama sedang sepi, barulah mereka berpindah memantau tawaran yang masuk di aplikasi alternatif ini.

Langkah korporasi melakukan peremajaan merek menjadi inDrive merupakan upaya penegasan untuk keluar dari sekadar layanan berbagi tumpangan menuju penyedia layanan perkotaan yang lebih luas. Kendati demikian, untuk benar-benar dapat berdiri sejajar dengan Gojek dan Grab di Indonesia, penyempurnaan infrastruktur teknologi dan adopsi sistem pembayaran non-tunai menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar. Tanpa pembenahan pada sektor-sektor krusial tersebut, platform ini tampaknya harus puas bermain di ceruk pasar sekunder sebagai penyedia layanan tawar-menawar yang tangguh, namun belum cukup kuat untuk membalikkan peta dominasi duo aplikator yang sudah nancap lebih dulu.

Sejarah Protes Dibalik Lahirnya Indrive

Lanskap transportasi daring di Indonesia kembali riuh ketika sebuah model bisnis alternatif menancapkan kukunya pada medio 2019....