Rabu, 03 Desember 2025

Dilema Ojol

Menyusuri Jalan dengan Intuisi dan Insting.

Pukul 4 sore di Surabaya adalah waktu yang sibuk bagi siapa pun yang menggantungkan hidupnya di atas roda. Jalanan padat, klakson bersahutan, dan panggilan dari aplikasi ojek daring merengek. Di tengah kekacauan itu, seorang pengemudi ojek online bernama Darto melirik layar ponselnya. Titik penjemputan muncul di peta digital, diikuti titik pengantaran yang berjarak tujuh kilometer. Ia menutup navigasi dari aplikasi, lalu memutar gas tahu kemana arah yang dituju.

Darto bukan satu-satunya yang mengandalkan lebih dari peta digital. Banyak pengemudi ojek online yang, seperti dia, mengandalkan intuisi untuk membaca medan. Mereka tidak sekadar mengikuti garis biru di layar, tapi juga membaca pola lalu lintas, mengenali jalan tikus, dan mengantisipasi kemacetan yang tidak tampil di aplikasi.

Dalam psikologi kognitif, proses ini dikenal sebagai heuristic-based decision making—pengambilan keputusan cepat berdasarkan pengalaman dan pola yang dikenali. Daniel Kahneman, peraih Nobel di bidang ekonomi, menyebutnya sebagai System 1 thinking: cepat, otomatis, dan sering kali akurat dalam konteks yang familiar.

Darto mengaku tidak selalu percaya pada peta. “Kadang aplikasi suruh mengikuti jalan yang berkelok-kelok, tapi saya tahu jalan yang lebih cepat dan efisien,” katanya. Ia pernah sekali mengikuti panduan aplikasi dan terjebak di gang sempit yang membuatnya harus memundurkan motor sejauh dua puluh meter. Sejak itu, ia lebih percaya pada ingatan dan nalarnya sendiri.

Proses berpikir seperti ini melibatkan lima tahap yang berlangsung dalam hitungan detik: persepsi, pengenalan pola, analisis cepat, evaluasi risiko, dan pengambilan keputusan. Ketika Darto melihat layar ponsel, otaknya langsung mengenali lokasi, mengingat kondisi jalan, dan menimbang jalur alternatif.

Namun, intuisi bukan satu-satunya perangkat untuk berhasil menuntaskan misi. Pengendalian diri juga menjadi bagian penting dari kerja mental seorang pengemudi. Ketika disalip secara sembrono atau menghadapi penumpang yang marah karena telat, Darto harus menahan diri. Ia menyebutnya “minum bensin sendiri”—ungkapan yang ia ciptakan untuk menggambarkan kemarahan yang tidak terlampiaskan.

Psikologi menyebut kemampuan ini sebagai self-regulation, bagian dari fungsi eksekutif otak yang mengatur emosi dan impuls. Dalam situasi jalan yang penuh tekanan, pengemudi seperti Darto harus terus menyeimbangkan antara kecepatan berpikir dan ketenangan batin.

Filsuf Jerman, Martin Heidegger, pernah menulis bahwa manusia adalah makhluk yang “selalu berada di dunia”—bukan sekadar hadir, tapi terlibat secara aktif dan sadar dalam lingkungan. Darto, dengan helm dan jaket hijaunya, adalah contoh nyata dari manusia yang “berada di dunia” dalam arti paling harfiah. Ia membaca jalan, merasakan ritme kota, dan membuat keputusan dalam lanskap yang terus berubah.

Di akhir hari, ketika matahari tenggelam di balik gedung-gedung tinggi dan layar ponsel mulai redup, Darto memarkir motornya di warung kopi langganan. Ia menyesap kopi hitam, menatap jalan yang mulai lengang, dan berkata, “Kalau cuma ngikuti peta aplikasi, saya bisa senewen, karena lewat gang kecil dan jalan macet.” Kalimat sederhana itu menyimpan pelajaran: bahwa dalam dunia yang serba otomatis, masih ada ruang bagi intuisi, pengalaman, dan ketajaman pikiran manusia.

Algoritma distribusi order pada aplikasi ojek online dirancang untuk efisiensi sistem yang menguntungkan aplikator dan pelanggan, bukan buat kesejahteraan driver. Ketimpangan muncul ketika kerja kognitif dan emosional pengemudi tidak sebanding dengan imbalan yang diterima. Driver hanya dianggap angka biner dalam sistem.

Di balik layar ponsel yang menyala di stang motor Darto, algoritma bekerja tanpa henti. Ia bukan sekadar pengatur lalu lintas digital, tapi juga penentu nasib. Sistem ini memetakan lokasi pengemudi, riwayat performa, tingkat penerimaan order, dan bahkan waktu aktif. Semua itu dihitung dalam milidetik untuk menentukan siapa yang layak menerima order berikutnya.

Namun, algoritma bukan entitas netral. Ia dirancang oleh aplikator untuk memaksimalkan efisiensi dan kepuasan pelanggan, bukan untuk menjamin keadilan bagi pengemudi. Dalam praktiknya, pengemudi yang dianggap “aktif” dan “responsif” akan lebih sering mendapat order. Yang menolak satu-dua kali, atau terlalu lama istirahat, akan tenggelam dalam antrean digital yang tak terlihat.

Darto menyadari ini. Ia pernah mencoba istirahat satu jam di siang hari, lalu mendapati dirinya tidak mendapat order selama dua jam berikutnya. “Kayak dihukum diam-diam,” katanya. Ia lalu belajar bahwa agar tetap “terlihat” oleh sistem, ia harus terus bergerak, membuka aplikasi, dan sesekali menerima order meski jauh.

Dalam psikologi kerja, ini disebut sebagai cognitive load—beban mental yang harus ditanggung seseorang dalam menjalankan tugas. Darto tidak hanya mengemudi, ia juga harus membaca peta, mengatur waktu, mengelola emosi, dan memahami pola algoritma yang tidak pernah dijelaskan secara transparan. Beban ini meningkat ketika insentif menurun dan potongan komisi meningkat.

Menurut data dari Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), potongan yang dikenakan aplikator bisa mencapai 20–30 persen dari tarif yang dibayarkan pelanggan. Artinya, dari Rp20.000 yang dibayar penumpang, Darto hanya menerima sekitar Rp13.000. Itu belum termasuk biaya bensin, perawatan motor, kuota internet,terjebak ongkos parkir dan risiko di jalan.

Ketimpangan ini menciptakan paradoks: pengemudi dituntut berpikir cepat, bertindak tepat, dan bersikap ramah, namun dihargai seperti Kuda andong, kasarannya "cuma dikasih makan rumput". Dalam filsafat kerja, ini menyerupai kritik Hannah Arendt tentang “aktivitas manusia modern yang kehilangan makna karena dikendalikan oleh sistem produksi.” Darto bukan sekadar driver; ia adalah kolaborator sistem yang tidak ia pahami sepenuhnya.

Anekdot tentang driver yang harus berpura-pura ramah demi rating, atau yang menolak order jauh lalu dihukum algoritma, bukan lagi cerita pinggiran. Itu adalah kenyataan sehari-hari. Di tengah sorotan layar dan deru mesin, kerja otak dan hati driver sering kali tidak tercermin dalam angka yang masuk ke dompet digital mereka.

Sistem ini mungkin efisien, tapi belum tentu adil. Dan di antara titik-titik peta yang terus bergerak, ada manusia yang berpikir, merasa, dan berharap. Seperti Darto, yang setiap hari menyusuri jalan di antara intuisi tajam dan harapan semu. 

Sumber: All Source 

Zodiak Pisces

Secara tradisional, rasi bintang #Pisces memang digambarkan sebagai dua ekor ikan yang berenang ke arah berlawanan namun terikat...