Jumat, 11 Juli 2025

Trump Sewot : Ancam Deportasi Untuk Elon Musk dan Mamdani

Apa yang ada di otak Donald Trump ? Presiden Cabul itu kini mengancam akan mencabut kewarganegaraan AS Elon Musk dan Zohran Mamdani, dua tokoh publik yang merupakan warga negara AS melalui proses naturalisasi.
 Zohran Mamdani adalah kandidat wali kota New York dari Partai Demokrat dan dikenal sebagai politisi sosialis. Trump geregetan karena doi menolak bekerja sama dengan operasi deportasi ICE (Imigrasi dan Bea Cukai AS), yang membuat Trump mengancam akan menangkap dan mencabut kewarganegaraannya.
 Elon Musk, CEO Tesla dan SpaceX, sebelumnya dekat dengan Trump seperti Bapak dan Anak, tetapi hubungan mereka kini memburuk setelah Musk mengkritik “Big Beautiful Bill”—undang-undang yang mencabut subsidi kendaraan listrik. Trump menyindir bahwa Musk “harus pulang ke Afrika Selatan” tanpa subsidi tersebut.

 Denaturalisasi (pencabutan kewarganegaraan) hanya bisa dilakukan jika ada bukti kuat bahwa seseorang memperoleh kewarganegaraan melalui penipuan, menyembunyikan fakta penting, atau terlibat dalam kejahatan berat seperti terorisme atau kejahatan perang.
 Para ahli hukum menyebut ancaman terhadap Mamdani dan Musk sebagai retorika politik yang tidak mungkin terealisasi secara hukum.

Mamdani menyatakan ,"Trump “mengancam akan menangkap, mencabut kewarganegaraan, menahan di kamp, dan mendeportasi saya—bukan karena saya melanggar hukum, tapi karena saya menolak membiarkan ICE meneror penduduk kota ini”.
 Sedangkan dalam kesempatan lain Musk menanggapi dengan sindiran di media sosial, menyebut dirinya “tergoda untuk membalas, tapi akan menahan diri untuk saat ini”.

Kehidupan Elon Musk dan Zohran Mamdani sebelum mereka menjadi warga negara Amerika Serikat penuh lika-liku dan pasang surut.

Elon Musk Lahir pada 28 Juni 1971 di Pretoria, Afrika Selatan.
 Ibunya, Maye Musk, adalah warga negara Kanada, yang memungkinkan Elon memperoleh kewarganegaraan Kanada pada usia 17 tahun.
 Ia pindah ke Kanada untuk menghindari wajib militer di Afrika Selatan dan melanjutkan pendidikan di Queen’s University.
 Kemudian ia pindah ke AS pada tahun 1992 untuk kuliah di University of Pennsylvania, menggunakan visa pelajar (F-1) dan kemudian visa kerja (H-1B).

Elon Musk menjadi warga negara AS pada tahun 2002 melalui proses naturalisasi, setelah tinggal dan bekerja di AS selama beberapa tahun.

 Zohran Mamdani Lahir pada 18 Oktober 1991 di Kampala, Uganda, dari orang tua keturunan Indi. Ayahnya seorang profesor dan ibunya seorang pembuat film terkenal.
 Keluarganya pindah ke Afrika Selatan saat ia berusia 5 tahun, lalu ke New York City saat ia berusia 7 tahun.
 Ia tumbuh besar di Manhattan dan menempuh pendidikan di Bronx High School of Science dan Bowdoin College di Maine.
 Meski tinggal lama di AS, ia tetap memegang kewarganegaraan Uganda hingga dewasa.

Zohran menjadi warga negara AS pada tahun 2018, melalui proses naturalisasi resmi, dan kini memegang kewarganegaraan ganda: Uganda dan Amerika Serikat.

Keduanya adalah contoh imigran sukses yang berkontribusi besar di bidang masing-masing—Musk di teknologi dan bisnis, Mamdani di politik progresif.
 Namun, karena mereka bukan warga negara AS sejak lahir, keduanya tidak memenuhi syarat untuk menjadi Presiden AS menurut Konstitusi.

Baik Elon Musk maupun Zohran Mamdani menghadapi tantangan besar sebelum mencapai kesuksesan mereka masing-masing. Elon Musk di dunia teknologi dan bisnis, Mamdani di dunia politik dan aktivis sosial.

 Elon Musk Sebelum Sukses mengalami beberapa Kegagalan di Awal Bisnis. Zip2, perusahaan pertamanya, hampir bangkrut sebelum akhirnya dijual ke Compaq.
 Di X.com (cikal bakal PayPal), ia dipecat sebagai CEO karena konflik internal.

Hampir Bangkrut di Tesla dan SpaceXTesla mengalami “production hell” dan hampir kehabisan dana pada 2008.
 SpaceX gagal tiga kali meluncurkan roket Falcon 1 sebelum akhirnya berhasil di percobaan keempat.

Gaya kepemimpinannya sering dikritik sebagai terlalu perfeksionis dan impulsif.
 Akuisisi Twitter yang diubahnya menjadi X menimbulkan kontroversi besar dan penurunan nilai perusahaan.

Musk menginvestasikan hampir seluruh kekayaannya untuk menyelamatkan Tesla dan SpaceX.
 Sering bekerja 100+ jam per minggu dan tidur di pabrik demi menyelesaikan masalah produksi.

Latar Belakang Minoritas Mamdani adalah Muslim keturunan imigran Uganda-India, yang tumbuh di New York sebagai “triple minoritas”.
 Ia menghadapi stigma politik karena identitasnya dan pandangan sosialistiknya.

Sebelum menjadi anggota Majelis Negara Bagian New York, ia adalah aktivis dan rapper.
 Saat mencalonkan diri sebagai wali kota, ia hanya memiliki dukungan kecil dan dianggap “tidak punya peluang”. Tidak didukung oleh elite politik atau media besar seperti The New York Times.
 Harus membangun kampanye dari nol, mengandalkan relawan dan media sosial.

Donald Trump mengancam akan mencabut kewarganegaraannya karena menolak kerja sama dengan ICE. Dicap sebagai “sosialis berbahaya” oleh lawan politik dan pelaku bisnis besar⁽⁴⁾.

Kesamaan Elon Musk dan Mamdani adalah sosok yang Gigih dan tahan banting. Keduanya tidak gampang menyerah meski menghadapi penolakan dan kegagalan. Berani ambil risiko,Musk mempertaruhkan kekayaannya, Mamdani mempertaruhkan reputasi dan keamanan pribadinya.
 Sama -sama Punya visi besar. Musk ingin menjadikan manusia spesies multiplanet, sedangkan Mamdani ingin menciptakan kota yang adil dan terjangkau untuk semua.






Di Balik Layar Ada Kru Yang Dibayar

Di balik layar Monster Pabrik Rambut, ada ironi yang tidak luput dari perhatian para pembuatnya. Film yang mengangkat tema ekspl...